Mari Ubah Sikap Lebih Dewasa

Oleh: Putra Rizki Pratama
Organisasi merupakan sebuah wadah yang di dalamnya memiliki elemen-elemen dan saling bersatu untuk meraih satu tujuan yang telah disepakti bersama. Dengan kata lain, organisasi merupakan sebuah sarana yang dilahirkan dan digunakan oleh beberapa orang (personal) untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Menurut pengertian ini, maka syarat mutlak untuk menjalankan sebuah organisasi agar menjadi baik haruslah adanya unsur keterbukaan sesama anggota tanpa terkecuali dalam setiap merespon permasalahan yang akan timbul nantinya. Tentunya, dalam aplikasi di lapangan, unsur ini terkadang sulit untuk diimplementasikan dalam setiap waktu dan kondisi. Hal ini dikarenakan beragamnya elemen-elemen yang berada dalam organisasi tersebut.
Berkumpulnya beragam pola pikir dan paradigma serta asal muasal dari para anggota sangat mempengaruhi dalam cara menyikapi setiap permasalahan yang muncul. Ada yang menyikapi dengan sistem "kekunoan", sistem "ikut-ikutan" dan ada dengan pola pikir kekinian. Memang hal ini tidak dapat dihindari karena setiap orang pasti berbeda sudut pandangnya dalam memandang sebuah permasalahan.
Terkadang ada yang bagi satu pihak itu merupakan sesuatu yang tidak substansial, namun bisa jadi bagi yang lainnya itu merupakan sesuatu yang sangat substansial dan fundamental. Oleh karena itu, munculah sebuah metode yang dilahirkan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Biasa disebut sebagai proses saran-kritik, proses di mana setiap individu boleh mengeluarkan pendapatnya untuk kemajuan bersama dengan melihat tahap-tahap penyampaiannya sendiri. Setiap organisasi yang sehat pasti akan mempraktikan metode ini untuk meraih keberhasilan bersama. Namun, permasalahan yang kemudian timbul akhir ini adalah lahir dan munculnya elemen-elemen yang anti kritik, tidak bisa dan mau menerima kritikan saat melakukan kesalahan dan saran untuk perbaikan kedepan. Ego-ego yang dikedepankan bahkan "primordialisme", kepentingan menjadi sebuah benteng untuk melindungi diri dari kritikan-kritikan, dan adapula yang mengedepankan isu untuk kebaikan bersama. Jangan menyampaikan kritik dalam forum bebas. Seperti ini rasanya kurang pantas, namun sebenarnya tidak pernah ada forum yang digagas untuk tempat penyampaian saran-kritik yang pantas.
Orang-orang semacam ini adalah orang-orang yang menggunakan kepintaran retorikanya untuk mengamankan posisinya di depan mata publik. Karena, bagi dia tidak ada forum untuk penyampaian kritik atau saran yang tidak sesuai dengan pemikirannya. Inilah yang menjadi penyakit dalam sebuah organisasi dan sumber perpecahan dan kehancuran organisasi yang akan melahirkan kader-kader pemimpin ke depan, sehingga akan didapati generasi-generasi yang gugur di jalan kritikan, baik itu dari pihak yang mendapat kritikan karena tidak mampu bertahan dan mau mengelola kritikan tersebut sebagai sebuah langkah awal untuk perbaikan, atau juga dari pihak pengkritik yang dipinggirkan secara terstruktur secara perlahan-lahan untuk mematahkan kekuatannya.
Pada umumnya yang selalu menjadi korban adalah orang-orang yang memberanikan diri untuk tampil sebagai pemberi kritikan demi kemajuan organisasi tersebut karena dia melawan pihak-pihak yang memegang kekuasaan. Dia dengan perlahan akan disingkirkan dengan kekuatan struktural yang dimiliki oleh "sang penguasa" organisasi.
Padahal, sejarah telah mencatat dalam goresan-goresan sejarahnya, kemajuan sebuah organisasi/lembaga tidak terlepas dari unsur saling mengingatkan antar pihak yang terlibat didalam organisasi tersebut. Namun, hal itu untuk saat sekarang ini sepertinya telah dikesampingkan dan sangat berat untuk diimplementasikan. Orang-orang yang memberanikan diri untuk mengingatkan kawan-kawan seorganisasinya dianggap sebagai seorang separatis, bahkan bisa jadi sebagai seorang teroris yang harus sangat diantisipasi oleh yang lainnya.
Penguasa-penguasa yang pada dasarnya adaah orang anti-kritik menjelmakan dirinya sebagai orang yang seolah-olah tertindas oleh tindakan kaum separatis tadi. Dan dia selalu dan terus saja mengkampanyekan isu bahwa pengkritik adalah kaum separatis yang ingin merusak organisasi ini. Dia ibarat virus penyakit menular yang akan menulari yang lain jika tak memiliki antibody yang cukup untuk melawannya. Sehingga membuat orang lain enggan dan takut memberikan saran-kritik untuk sebuah perbaikan karena dia akan dianggap sebagai bagian dari kaum "separatis atau teroris" yang harus disingkirkan. Sehingga, generasi-generasi yang dilahirkan organisasi tersebut adalah generasi anti-kritik dan bermental pengecut bahkan berjiwa banci.
Generasi kerdil yang tidak berani menyuarakan kebenaran dengan alasan persaudaran konyol, generasi pendiam atas sebuah kebenaran, yang seharusnya organisasi itu mampu melahirkan kader-kader pemimpin yang bermental kuat dan berjiwa besar, namun sebaliknya yang akan dilahirkan adalah kader-kader pemimpin yang berjiwa kerdil, bermental banci dan berpikir dirinyalah yang paling suci.
Jika ini terjadi, dan terus kita biarkan maka kemajuan dan keinginan melihat kemajuan bangsa ini jauh dari harapan. Tidak ada lagi kader pemimpin visioner, namun yang banyak akan kita temukan adalah pemimpin yang larut dalam otoriter. Pemimpin yang akan memberi kenyamanan dan keamanan kepada lingkarannya saja yaitu orang yang tidak mengganggu dan mengusik kedudukannya.
Dan akan menyingkirkan siapa saja yang berusaha mengusik singgasana kekuasaannnya. Maka, mari bangun dari tidur panjang kita. Singkapkan perasaan yang selama ini menghantui. Beranikan diri tampil sebagai bagian pemberi solusi, bukan yang mengisolasi kebenaran. Buktikan bahwa kita bukan orang-orang yang diam saat melihat kesalahan yang pada hakikatnya kita sadar itu merupakan sebuah kesalahan yang harus diingatkan. Sehingga, kita layak dan pantas menjadi kader-kader pemimpin yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa ini. (*)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »