100 Pemuda/i dari seluruh penjuru Aceh datang dengan berbagai latar belakang mulai dari perwakilan Paguyuban, BEM, Komunitas kepemudaan Lintas Agama pada hari Sabtu 30 April 2016 mengambil lokasi di Hermes Palace Hotel yang terletak di kawasan Lampineung Banda Aceh berkumpul untuk menyamakan persepsi tentang makna Damai dalam kegiatan Bimbingan Teknis Diplomasi Budaya Damai Pada Generasi Muda Tahap II sejak tanggal 30 April hingga 03 Mei 2016 yang diselenggarakan oleh Direktorat Warisan Dan Diplomasi Budaya Dirjen Kebudayaan Kemendikbud bekerjasama dengan Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Aceh.
Setiap harinya kami disuguhi dengan materi tentang perdamaian dan dilengkapi dengan pembagian kelompok diskusi yang dipandu oleh para fasilitator yang sangat handal, cakap, dan tentunya friendly. Hal yang sangat menarik perhatian saya dan beberapa peserta lain khususnya Paduka Muhadzier Maop adalah teknik fasilitator meroker anggota antar kelompok untuk membuat kami saling kenal dan akrab satu sama lainnya, dan akhirnya "memaksa" kami bersuara di kelompok saat diskusi. Saya melihatnya ini mengadopsi teknik amoeba dalam membelah diri, tanpa teknik membelah diri ini kami tidak akan akrab, besar (Karakter dan Ide) dan saling mencerahkan.
Hal lain yang menarik dari kegiatan ini adalah adanya penunjukan Tuha Peut. Unsur Tuha Peut ini sebenarnya adalah kecelakaan sejarah, kenapa saya menyebutnya kecelakaan karena hadirnya istilah ini hanya karena inisiatif seorang falitator mencari peserta yang usianya lebih muda dan lebih tua. Dikarenakan ada empat orang yang terdeteksi sebagai peserta berusia lanjut maka ditetapkanlah sebagai Tuha Peut forum Bimtek. Tugas Tuha Peut menjaga keharmonisan dan kelancaran kegiatan hingga akhir kegiatan.
Dan dalam pelaksanaan ternyata terdeteksi ada yang sangat lebih tua dari para Tuha Peut sehingga kami mendaulatnya sebagai Paduka "Wali Nanggroe" forum Bimtek. Tentu anda sudah tahu siapakah kisanak tersebut, ya beliau adalah Paduka Muhadzier Maop. Oh iya saya sendiri juga masuk dalam jajaran unsur Tuha Peut karena mengaku sudah berusia 27 tahun disusul Darlis Azis yang mengaku berusia 25 tahun setengah, disusul oleh Mirja yang mengaku 25 tahun 2 bulan dan terakhir ada Azlan pemuda dari pidie. Saya lupa tentang pengakuannya terkait usia heheheee.
Berkumpulnya para pemuda/i ini dan saya pun menjadi bagian dari 100
peserta dimulai dengan kata "Tidak"
dan diakhir kegiatan bermetamorsa menjadi kata "Saling", yaitu :
4 hari sebelum penutupan kami Tidak mengenal, hingga diakhir kegiatan kami menjadi saling mengenal,
4 hari sebelum penutupan kami Tidak memahami, hingga diakhir kegiatan kami menjadi saling memahami,
4 hari sebelum penutupan kami Tidak akrab dengan yang lain, hingga diakhir kegiatan kami menjadi saling akrab satu sama lain,
4
hari sebelum penutupan kami Tidak bersatu dan terpisah pada
kelompok-kelompok golongan, hingga diakhir kegiatan kami saling
menyatu dan menjadi keluarga,
4 hari sebelum penutupan kami Tidak mengenal, hingga diakhir kegiatan kami menjadi saling mengenal,
4 hari sebelum penutupan kami Tidak mengenal, hingga diakhir kegiatan kami menjadi saling mengenal.
Setelah mengikuti kegiatan tersebut saya memahami Damai bukan sebatas kata yang termaktub dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Karena damai adalah :
Bukan tentang bicara persamaan namun menerima perbedaan;
Bukan tentang harus mayoritas yang berkuasa namun tentang menerima minoritas;
Bukan tentang menindas secara fisik namun juga menjaga diri dari verbal yang menindas;
Bukan tentang diskusi perbedaan warna kulit, Ras serta Agama namun tentang menjadikannya sebagai pelangi kehidupan.
Di akhir, kami 100 pemuda/i Aceh berikrar menjadi juru Damai untuk Negeri ini. Di pandu oleh salah satu peserta yaitu Fajar kami berikrar jika di bumi ini ada 100 pemuda yang menjadi juru damai maka dipastikan itu adalah kami. Dan Jika di bumi ini hanya ada 10 juru damai maka pasti kami ada disana. Dan jika di bumi ini hanya ada satu juru damai maka dipastikan maka aku lah juru damai itu.
Banda Aceh, 5 Mei 2016
Saleum Damee Dari Aneuk Muda Aceh
*catatan ini hadir sebagai bentuk mengikat kenangan dari sejarah kehidupan saya dalam bait-bait kata yang juga akan menjadi pengingat nantinya jika saya terlupa tentang esensi Damai.
#SaleumPRP