Surat Terbuka Kepada Pj Walikota Sabang

Surat Terbuka Kepada Pj Walikota Sabang

Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabaratuh

Bapak Pj Walikota Sabang Yang Terhormat

Hari ini sembari menikmati segelas teh hangat dan beberapa kue sebagai pengisi perut yang kosong, dalam rangkaian menikmati momen kesembuhan saya. Saya mencoba membuka akun medsos saya dan terlihatlah postingan kegiatan Bapak dalam menyambut Menkopolhukam dan Mendagri yang telah datang ke Sabang

Karena postingan itu teringat pula saya bahwa tepat bulan ini Bapak Pj Walikota telah melewati 3 (tiga) bulan masa kepemimpinan sebagai Pj Walikota Sabang. Sebagaimana amanat regulasi, bahwa setiap 3 bulan sekali, setiap Pj harus memberikan laporan pertanggungjawabannya kepada Presiden RI melalui Mendagri

Maka dalam kesempatan ini, izinkan saya memberikan sedikit pendapat dan harapan sebagai salah satu penduduk Kota Sabang. Yang pertama sekali ingin saya sampaikan bahwa selamat kepada Bapak yang sudah melewati 3 bulan kepemimpinan dengan baik dan hampir tanpa hambatan berarti yang dirasa. Satu hal yang patut diapresiasi adalah pola kerja baru yang bapak terapkan di lingkungan pemerintah Kota Sabang yang membuat beberapa ASN sedikit kaget dan beradaptasi dengan cepat agar tidak "dimarahi"

Kita Itu Aneh

Google.com
Kita itu aneh
Sering kita marah kepada orang lain karena perlakuan tak adil
Namun, kita pun lebih tak adil kepada orang lain dan diri sendiri

Kita itu aneh
Sering kita ingin dimengerti dan diperdulikan orang lain
Namun, kita enggan mengerti dan peduli akan kondisi orang lain

Kita itu aneh
Sering kita memaksa orang menepati janjinya kepada kita
Namun, tak jarang kita lebih sering ingkar akan janji yang kita ucapkan kepada orang lain

Kita itu aneh
Sering kita meminta orang terdekat agar selalu bersama kita
Namun, saat kita sedang senang dengan orang lain tak jarang kita melupakannya

Memilih Pemimpin : Bukan Baik tapi KUASA yang penting

Google.com
Sering kita mendengar slogan "pilih yang baik" tapi kenyataannya yang diusung dan dicalonkan adalah yang hanya memiliki peluang besar untuk menang. Buktinya, yang katanya baik tapi tidak diusung juga hanya karena hasil survei meraih persentase sedikit dan tidak punya finansial cukup.

Jadi ini sebenarnya soal Baik atau sebatas soal Menang untuk berkuasa?. Sepertinya ini memang hanya soal KUASA, kuasa dalam artian punya modal yang kuat dan bekingan banyak. Maka tak perlu heran, karena saat ini belum ada yang benar-benar dan berani mempraktekan teori politik yang baik. Yang ada hanya pandai menjual Slogan-slogan kebaikan demi memuaskan hasrat berkuasa semata.

Untaian Kata Ketua Umum IPPEMAS 2014-2016

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Rasa syukur kehadirat Allah Swt atas segala anugrah, hidayah hingga curahan rizki tak terhingga yang terus kita nikmati hingga saat ini. Inilah wujud kasih sayang yang sejati, memberi tanpa meminta, dan terus menambahnya bagi yang mensyukuri dan baik dalam proses meminta nikmat itu. Shalawat serta salam kita haturkan kepada sang Pelita yang tak akan pernah tergerus oleh kondisi, pribadi yang disayangi kawan dan disegani para lawan. Idola sejati bagi seluruh individu yang ingin menjadi pribadi paripurna, beliau adalah baginda Muhammad Saw.
Tanggal Lima Belas bulan Juni tahun Dua Ribu Empat Belas merupakan sejarah dalam literatur kehidupan saya secara pribadi, karena dihari tersebut saya mendapat sebuah kepercayaan dari kawan-kawan tanpa melalui proses settingan apapun dan itu mengalir secara damai dan aman. Momentum dimana saya terpilih sebagai Ketua Umum PB-IPPEMAS untuk masa jabatan 2014-2016. Tentu ini bukanlah hal biasa dan mudah, bukan karena posisi yang diemban namun lebih kepada nilai amanah itu sendiri. Setiap amanah sekecil apapun tentu tak akan luput dari pertanggungjawaban bukan hanya kepada manusia namun lebih tinggi yaitu mempertanggungjawabkannya dihadapan Allah swt nantinya.
IPPEMAS (Ikatan Pemuda Pelajar Dan Mahasiswa) adalah salah satu paguyuban yang ada di Provinsi Aceh. Secara esensi IPPEMAS diharapkan menjadi Rumah Besar bagi para Pemuda, Pelajar dan Mahasiswa bukan sebagai wadah untuk menghadirkan gab-gab melainkan sebagai sarana mewujudkan persaudaraan, memupuk kebersamaan dalam perbedaan, katalisator dinamika sebagai proses pendewasaan. Secara pribadi saya memahami nilai luhur tersebut harus lebih diprioritaskan diatas segala-galanya tanpa juga melupakan tanggung jawab Pemuda-Mahasiswa sebagai agent of change yang memiliki beban moral untuk menjadi bagian dari sosial kontrol dan penyumbang gagasan solutif terhadap proses pembangunan di Kota Sabang dan Aceh secara umum.

Perangai Duri Dalam Daging


Ada seorang pria tergabung dalam sebuah tim sepak bola, dia sedikit unggul dibanding yang lain sehingga dia pun akhirnya lupa bahwa dia sedang berada dalam tim (A). Karena ambisi dan terlalu pongah sikap dia terlalu berani melawan sang manajer beserta pelatihnya.

Akibat tingkahnya itu dia akhirnya dikeluarkan dari tim inti dan mendapat peringatan keras. Dan mendapat sanksi hanya sebagai pemain cadangan sekaligus sebagai penggembira tim A. Tak terima dengan perlakuan dan sanksi yang diberikan akhirnya dia berniat ingin membalas perlakuan sang manajer, pelatih dan teman se-tim nya karena tidak mau membela dia saat diberikan sanksi.

Perpisahan

Google.co.id
Ada asa saat pertama kita berjumpa
Ada rasa setelah melewati masa bersama
Ada kisah yang ingin ku tulis
Ada cerita yang ingin ku bagi kepada semua

Ternyata setelah waktu bergulir
Lembaran penuh lembaran telah terlalui
Selalu ada persimpangan noda yang ditemui
Bukan hanya sekali namun berulang kali

Katalisasi Pemuda Sabang

#Katalisasi #Pemuda #Sabang
Kemarin saat bertemu dengan salah satu kawan di Sabang, dia berkata "Tra kencang kali konsolidasi qe eee. Ku liat dah sereng qe ngumpul dan diskusi sama anak muda di sabang ni. Itu jadi qe naek ato qe cuma dukung orang aja".

Mendengar sapaan itu saya sedikit tersenyum dan senang. Ternyata dia masih peduli dengan kami-kami ini. Hehehee

Tertarik dengan pandangannya maka kami pun sedikit berdiskusi. Dalam diskusi yang terjadi saya menyampaikan pandangan dan gagasan tentang Katalisasi Pemuda Sabang.

Membangun Sabang Secara Proporsional

Oleh: Putra Rizki Pratama*
Diskusi dan wacana tentang Sabang tentunya sudah sangat banyak dibahas oleh berbagai pihak terkait konsep dan pola membangun Sabang dengan baik dan efektif. Sehingga diskursus-diskursus terkait ini perlu terus ditingkatkan secara massif agar menemukan pola dan strategi yang paling tepat diterapkan sehingga potensi Sabang mampu termaksimalkan untuk kesejahteraan yang nyata.

Maka, IPPEMAS sebagai elemen kaum muda yang notabene menjadi bagian dari kaum intelektual mencoba mengambil peran dalam mengisi kekosongan gagasan selama ini di tataran masyarakat Sabang itu sendiri yaitu dengan membangun komunikasi dan silaturahmi dengan seluruh elemen baik perorangan, alumni hingga pemangku kebijakan lintas sektoral.

Dalam proses silaturrahmi yang terjalin seringkali kami mendiskusikan terkait kondisi Sabang saat ini dan pola apa yang paling tepat diterapkan ke depan agar cita-cita percepatan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan segera terwujudkan. Hal ini didasari bahwa kaum muda khususnya kalangan intelektual (pelajar-mahasiswa) harus menjadi problem solver (Pemberi solusi) atas kondisi yang terus stagnan dirasa saat ini.

Dilema Organisasi; Mendesain Ulang Makna Keaktifan

Bicara tentang organisasi/lembaga adalah sejatinya kita sedang melakukan proses melepaskan ambisi pribadi dan menggantinya dengan kepentingan bersama. Dalam menjalankan roda organisasi maka kemampuan kita memahami dan meresapi standar diatas menjadi dasar terpenting agar terpatri didalam diri dan akhirnya mampu memposisikan diri secara baik dan bijaksana.
Suasana saat diskusi dan berbagi
Maka fenomena keaktifan dan ketidakaktifan anggota adalah hal yang selalu ada dan menarik untuk diperbincangkan dalam ruang organisasi manapun. Di dunia ini segala sesuatu diciptakan selalu berpasang-pasangan; ada hitam ada putih, ada ikhwan ada akhwat, ada manis ada jelek, ada organisasi ada fenomena ketidakaktifan.

7 Alasan Kita Buntu Menjadi Penulis

Foto Bersama Rekan-Rekan Peserta workshop
1. Engga Menulis. Faktor utama kita buntu bahkan gagal menjadi penulis adalah engga segera menulis, kita hanya bermain pada tataran ide dialam pikiran semata. Ide segar dan luar biasa menjadi sebatas ide yang tak mau dituangkan menjadi tulisan. Maka untuk menjadi penulis sangat mudah, tulis saja ide yang terlintas dipikiran kita, karena ide itu sangat berharga dan tidak akan bertahan lama jadi jangan sampai menguap begitu saja.

Menulis itu bukan soal bakat tapi tentang kemauan. Jadi buang jauh-jauh dogma-mitos yang mengatakan menjadi seorang penulis haruslah memiliki bakat. Syarat menulis itu gampang, cukup siapkan pena/pulpen dan kertas lalu tuangkan ide yang berseliweran kedalam deretan tulisan. Atau karena kita sudah berada dizaman IT, langsung buka aplilasi menulis di gadget yang kita punya. Kalo belum punya, Instal terus sekarang bro mumpung masih ada yang gratis. Hehehe.

2. Sedikit Bacaan. Menjadi seorang penulis sudah barang tentu harus memiliki wawasan yang luas agar menghasilkan tulisan yang segar, mencerahkan, bagus-bagus kalo bisa memperbaiki kondisi zaman dan buat nagih untuk ditunggu karya-karya selanjutnya. Kurangnya membaca membuat penulis akhirnya bertemu pada tahap kemarau ide yang akhirnya membuat kita jadi malas menulis lagi. Jadi jika ingin jadi penulis mulai sekarang pasang target jumlah bacaan perhari/perminggu hingga pertahun terserah model bacaan apapun boleh buku, artikel dan lain sebagainya yang penting harus membaca minimal baca status sosmed orang penting/tokoh/penulis hebat lah,hehehe. Penulis yang baik adalah pembaca yang handal.

Pesan Damai dari Generasi Muda Aceh

100 Pemuda/i dari seluruh penjuru Aceh datang dengan berbagai latar belakang mulai dari perwakilan Paguyuban, BEM, Komunitas kepemudaan Lintas Agama pada hari Sabtu 30 April 2016 mengambil lokasi di Hermes Palace Hotel yang terletak di kawasan Lampineung Banda Aceh berkumpul untuk menyamakan persepsi tentang makna Damai dalam kegiatan Bimbingan Teknis Diplomasi Budaya Damai Pada Generasi Muda Tahap II sejak tanggal 30 April hingga 03 Mei 2016 yang diselenggarakan oleh Direktorat Warisan Dan Diplomasi Budaya Dirjen Kebudayaan Kemendikbud bekerjasama dengan Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Aceh.

Setiap harinya kami disuguhi dengan materi tentang perdamaian dan dilengkapi dengan pembagian kelompok diskusi yang dipandu oleh para fasilitator yang sangat handal, cakap, dan tentunya friendly. Hal yang sangat menarik perhatian saya dan beberapa peserta lain khususnya Paduka Muhadzier Maop adalah teknik fasilitator meroker anggota antar kelompok untuk membuat kami saling kenal dan akrab satu sama lainnya, dan akhirnya "memaksa" kami bersuara di kelompok saat diskusi. Saya melihatnya ini mengadopsi teknik amoeba dalam membelah diri, tanpa teknik membelah diri ini kami tidak akan akrab, besar (Karakter dan Ide) dan saling mencerahkan.

Hal lain yang menarik dari kegiatan ini adalah adanya penunjukan Tuha Peut. Unsur Tuha Peut ini sebenarnya adalah kecelakaan sejarah, kenapa saya menyebutnya kecelakaan karena hadirnya istilah ini hanya karena inisiatif seorang falitator mencari peserta yang usianya lebih muda dan lebih tua. Dikarenakan ada empat orang yang terdeteksi sebagai peserta berusia lanjut maka ditetapkanlah sebagai Tuha Peut forum Bimtek. Tugas Tuha Peut menjaga keharmonisan dan kelancaran kegiatan hingga akhir kegiatan. 

Dan dalam pelaksanaan ternyata terdeteksi ada yang sangat lebih tua dari para Tuha Peut sehingga kami mendaulatnya sebagai Paduka "Wali Nanggroe" forum Bimtek. Tentu anda sudah tahu siapakah kisanak tersebut, ya beliau adalah Paduka Muhadzier Maop. Oh iya saya sendiri juga masuk dalam jajaran unsur Tuha Peut karena mengaku sudah berusia 27 tahun disusul Darlis Azis yang mengaku berusia 25 tahun setengah, disusul oleh Mirja yang mengaku 25 tahun 2 bulan dan terakhir ada Azlan pemuda dari pidie. Saya lupa tentang pengakuannya terkait usia heheheee.

Berkumpulnya para pemuda/i ini dan saya pun menjadi bagian dari 100 peserta dimulai dengan kata "Tidak" dan diakhir kegiatan bermetamorsa menjadi kata "Saling", yaitu :
4 hari sebelum penutupan kami Tidak mengenal, hingga diakhir kegiatan kami menjadi saling mengenal,
4 hari sebelum penutupan kami Tidak memahami, hingga diakhir kegiatan kami menjadi saling memahami,
4 hari sebelum penutupan kami Tidak akrab dengan yang lain, hingga diakhir kegiatan kami menjadi saling akrab satu sama lain,
4 hari sebelum penutupan kami Tidak bersatu dan terpisah pada kelompok-kelompok golongan, hingga diakhir kegiatan kami saling menyatu dan menjadi keluarga,
4 hari sebelum penutupan kami Tidak mengenal, hingga diakhir kegiatan kami menjadi saling mengenal, 
4 hari sebelum penutupan kami Tidak mengenal, hingga diakhir kegiatan kami menjadi saling mengenal.

Setelah mengikuti kegiatan tersebut saya memahami Damai bukan sebatas kata yang termaktub dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Karena damai adalah :
Bukan tentang bicara persamaan namun menerima perbedaan;
Bukan tentang harus mayoritas yang berkuasa namun tentang menerima minoritas;
Bukan tentang menindas secara fisik namun juga menjaga diri dari verbal yang menindas;
Bukan tentang diskusi perbedaan warna kulit, Ras serta  Agama namun tentang menjadikannya sebagai pelangi kehidupan.

Di akhir, kami 100 pemuda/i Aceh berikrar menjadi juru Damai untuk Negeri ini. Di pandu oleh salah satu peserta yaitu Fajar kami berikrar jika di bumi ini ada 100 pemuda yang menjadi juru damai maka dipastikan itu adalah kami. Dan Jika di bumi ini hanya ada 10 juru damai maka pasti kami ada disana. Dan jika di bumi ini hanya ada satu juru damai maka dipastikan maka aku lah juru damai itu.

Banda Aceh, 5 Mei 2016
Saleum Damee Dari Aneuk Muda Aceh
 *catatan ini hadir sebagai bentuk mengikat kenangan dari sejarah kehidupan saya dalam bait-bait kata yang juga akan menjadi pengingat nantinya jika saya terlupa tentang esensi Damai.

#SaleumPRP

PLN, Kami (masyarakat) yang salah Kok

Sumber : Google
Belakangan ini PLN menjadi sosok yang hangat dibicarakan, ibarat seorang gadis cantik dan seksi yang memikat banyak perhatian orang. Di banyak sosial media, PLN kerap kali mendapatkan kritikan hingga makian hanya lantaran mereka (PLN) tidak menyalurkan listrik kerumah-rumah masyarakat dan tempat publik lainnya.

Menurut saya PLN enggak salah koq. Mereka kan hanya menjalankan tugas agar tak disebut makan gaji buta. Lagian kan mereka dah punya prestasi, di tahun 2015 mereka mampu mencetak untung Rp30,9 triliun dibawah arahan pak direkturnya. Dimana salahnya coba?

PLN matikan listrik karena perlu dilakukan perawatan rutin loh. Ya yang namanya rutin kan harus sering-sering ga boleh setahun cuma sekali ;) . Ibaratnya seperti gadis muda nan cantik jelita kan setiap hari dia perlu merawat dirinya agar ga luntur kemolekan yang telah dirasa selama ini.