![]() |
| Foto Bersama Rekan-Rekan Peserta workshop |
1. Engga Menulis. Faktor utama kita buntu bahkan gagal menjadi penulis adalah engga segera menulis, kita hanya bermain pada tataran ide dialam pikiran semata. Ide segar dan luar biasa menjadi sebatas ide yang tak mau dituangkan menjadi tulisan. Maka untuk menjadi penulis sangat mudah, tulis saja ide yang terlintas dipikiran kita, karena ide itu sangat berharga dan tidak akan bertahan lama jadi jangan sampai menguap begitu saja.
Menulis itu bukan soal bakat tapi tentang kemauan. Jadi buang jauh-jauh dogma-mitos yang mengatakan menjadi seorang penulis haruslah memiliki bakat. Syarat menulis itu gampang, cukup siapkan pena/pulpen dan kertas lalu tuangkan ide yang berseliweran kedalam deretan tulisan. Atau karena kita sudah berada dizaman IT, langsung buka aplilasi menulis di gadget yang kita punya. Kalo belum punya, Instal terus sekarang bro mumpung masih ada yang gratis. Hehehe.
2. Sedikit Bacaan. Menjadi seorang penulis sudah barang tentu harus memiliki wawasan yang luas agar menghasilkan tulisan yang segar, mencerahkan, bagus-bagus kalo bisa memperbaiki kondisi zaman dan buat nagih untuk ditunggu karya-karya selanjutnya. Kurangnya membaca membuat penulis akhirnya bertemu pada tahap kemarau ide yang akhirnya membuat kita jadi malas menulis lagi. Jadi jika ingin jadi penulis mulai sekarang pasang target jumlah bacaan perhari/perminggu hingga pertahun terserah model bacaan apapun boleh buku, artikel dan lain sebagainya yang penting harus membaca minimal baca status sosmed orang penting/tokoh/penulis hebat lah,hehehe. Penulis yang baik adalah pembaca yang handal.
3. Kurang Bergaul. Biasanya orang-orang yang gagal menulis tidak banyak bergaul dan hanya bermain-main dialam pikiran sendiri, maka untuk menjadi penulis dan menjaga semangat kita harus mencari dan berkumpul dengan lingkungan dan komunitas yang sehobi. Ini berguna karena kita akan memiliki kawan diskusi dan untuk berbagi trik dan tips. Jika perlu carilah satu "lawan" untuk bersaing dalam menghasilkan tulisan. Bersaing disini bukan untuk mencari siapa yang terbaik namun sebagai motivasi bagi kita untuk terus semangat menulis dan meningkatkan kemampuan kita.
4. Standar terlalu tinggi. Penulis pemula biasanya langsung ingin cepat populer, terkenal, masuk di media hebat kalo bisa Headline atau tulisan yang dibuat langsung mau jadi setara dengan Tere Liye, mas FX Rudi Gunawan, Mbak Olie, Putu Wijaya, Buya Syafi'i Maarif, Emha Ainun Najib, dsb hanya dengan bekal baru satu tulisan. Karena standar yang digunakan terlalu tinggi inilah biasanya menjadi faktor runtuhnya pondasi semangat juang menulis. Padahal untuk mencapai taraf itu kita butuh perjuangan, pengorbanan dan usaha yang lebih keras dan banyak lagi. Tidak mungkin dalam waktu singkat dan cepat kita mampu menjadi penulis yang hebat dan populer karena semua itu adalah buah dari Proses. Jadi menulis saja, tanpa perlu bermimpi terlalu tinggi karena kalo jatuh bisa koma.
5. Terlalu kaku sama aturan yang bukan aturan. Kebanyakan kita mentok dalam menulis karena terlalu ngikutin aturan menulis khususnya tentang EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Padahal esensi pertama kita menulis adalah ya menulis bukan buat kamus bahasa indonesia :) . Maksud saya kenapa harus batasin kemampuan diri hanya karena aturan yang belum mampu kita penuhi, EYD itu kan digunakan jika kita mau membuat tulisan ilmiah (Skripsi,Jurnal,dsb) atau artikel populer ilmiah yang mau dimuat dimedia resmi. Tapi selain itu kan engga ada aturan harus menggunakan EYD, emank bagusnya apapun jenis tulisan kita mengikuti pola EYD yang ada agar mudah dibaca semua kalangan tapi ingat itu bukan aturan kaku loh.
Aturan selanjutnya yang sering buat kita gagal menjadi penulis adalah pemilihan kata. Kita biasanya memaksa diri untuk mencari kata-kata keren dan wah untuk menulis sehingga seringkali ini menjadi jalan buntu dalam menulis. Misalnya untuk menerangkan kondisi ada seseorang yang sedang memberikan pendapat bersifat imajinasi/khayalan dia semata kita harus membuka kamus bahasa indonesia, obrak-abrik google dan akhirnya menemuka kata "spekulasi", iya sih keliatan dan kedengaran keren dan wah gitu kata tersebut. Namun untuk satu kata saja kita harus menghabiskan waktu yang banyak, padahal kalo mau sederhana dan gampang kita tinggal gunakan kata "nebak/tebakan" untuk menjelaskan kondisi tersebut. Ingat ya, menulis bukan soal keren dan wah namun soal isi dan isinya tersampaikan kepada si pembaca.
6. Terlalu dengerin kata orang. Jika ingin menjadi penulis kita harus punya sedikit sifat cuek dan sedikit perasaan sok. Kenapa ini perlu dan kapan itu dipergunakan? Sifat cuek kita butuhkan saat berhadapan dengan sekelompok orang yang selalu mencemooh kemampuan menulis kita. Jika ketemu orang dari golongan ini maka cuekin saja, jangan terlalu dengerin kata-kata mereka karena hanya akan membuat kita semakin jauh dari semangat menulis. Selanjutnya sikap sok kita butuhkan untuk menghadapi orang-orang seperti ini, kita bisa menggunakan kalimat pamungkas untuk menyerang balik "biarin jelek yang penting udah nulis, ketimbang ente engga ada pun tulisan yang dibuat :p ".
7. Terlalu banyak ikut workshop menulis. Workshop seharusnya hanya dijadikan sebagai suplemen bukan sebuah kebutuhan. Ibaratnya seperti makanan pokok yang menjadi sebuah kebutuhan dalam
mempertahankan hidup maka kita akan ketergantungan dan akan tumbang jika
tak mengkonsumsinya dengan segera. Terlalu sering mengikuti workshop bisa menggoyahkan motivasi kita, karena biasanya setelah mengikuti kita akan merasa seperti orang bodoh di dunia tulis-menulis apalagi jika selama ini komitmen menulis kita memang rendah maka tamtlah riwayat kita padahal selama ini sudah ada beberapa tulisan yang dihasilkan.
Maka workshop itu hanya sebagai suplemen untuk menambah "energi" kita dalam menulis. Dan kita juga engga perlu mengikuti semua workshop yang ada, cukup sesuaikan dengan yang kita butuhkan. Misalnya kita sudah mampu menguasai teknik dasar-dasar menulis maka tak perlu lagi mengikuti workshop tentang hal itu. Kenapa? agar motivasi dan visi kita terjaga dan terus meningkat. Pernah liat seorang petinju Profesional pergi kesana kemari hanya untuk mengikuti pelatihan tentang teknik bertinju??? Pasti jawabannya Tidak. Namun bukan berarti kita tidak boleh membaca ulang tentang teori-teori dasar.
Semoga bermanfaat ^_^
Ini adalah hasil perenungan dan kesimpulan saya pribadi setelah mengikuti Workshop Penulisan Pemberdayaan Komunitas/Asosiasi Kreatif/Perguruan Tinggi (16 Sektor) yang diselenggarakan oleh Badan Ekonomi Kreatif Indonesia yang bekerjasama dengan Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Aceh pada tanggal 09-10 Mei 2016 di Hotel Madinah, Banda Aceh
#SaleumPRP
