Dilema Organisasi; Mendesain Ulang Makna Keaktifan

Bicara tentang organisasi/lembaga adalah sejatinya kita sedang melakukan proses melepaskan ambisi pribadi dan menggantinya dengan kepentingan bersama. Dalam menjalankan roda organisasi maka kemampuan kita memahami dan meresapi standar diatas menjadi dasar terpenting agar terpatri didalam diri dan akhirnya mampu memposisikan diri secara baik dan bijaksana.
Suasana saat diskusi dan berbagi
Maka fenomena keaktifan dan ketidakaktifan anggota adalah hal yang selalu ada dan menarik untuk diperbincangkan dalam ruang organisasi manapun. Di dunia ini segala sesuatu diciptakan selalu berpasang-pasangan; ada hitam ada putih, ada ikhwan ada akhwat, ada manis ada jelek, ada organisasi ada fenomena ketidakaktifan.

Biasanya fenomena ketidakaktifan selalu ditandai dengan suguhan alasan-alasan yang bersifat klise dan terkesan dramatis, tujuannya hanya untuk meraih simpati dari pimpinan organisasi atau orang yang menghubungi. Beberapa alasan yang sering muncul adalah :
- Maaf bang, saya banyak kegiatan lain
- Afwan akhi, ane lagi ada tugas kampus yang menumpuk. Jadi ga bisa bantu kali ini
- Aduh bang/kak, telat kali kasih infonya. Ga sempat siap2 ni
- Sorry bro, aku ga da kendaraan ni. kalian lanjut aja ya (*alasan ini adlah alasan paling sok, karena dah ga hadir malah merintah pulak -_-" )
- Dan berbagai macam list alasan klise yang sejenis.

Kenapa saya menyebutnya sebagai alasan klise, memangnya yang kuliah cuma si anggota itu? jadi si ketua atau yang menghubungi itu engga kuliah? atau yang punya tugas kampus cuma dia, terus yang hubungi atau si ketua ga da tugas kampus?? Ah kejam dan terlalu naif si anggota yang tergolong dalam penganut alasan diatas. Padahal semua alasan itu bisa kita carikan solusi jika emang ada kemauan dan rasa memiliki terhadap organisasi. Misalnya soal dia ga punya kendaraan, kan bisa hubungi kawan lain atau minta dijemput sebentar. Atau soal dia punya tugas, kan bisa dikerjain sembari rapat. Toh ga ada larangan atau bahkan pengharaman mengerjakan tugas di forum rapat. Jadi jika ada anggota yang terlalu dan selalu beralasan itu menandakan dia emang ga serius-mau dan belum punya rasa memiliki terhadap organisasi. Simpel saja ;) .

Ada 3 faktor secara umum yang  menjadikan kader kurang aktif bahkan menjadi tidak aktif, yaitu sebagai berikut :
1. Merasa Tinggi. Ini adalah virus paling berbahaya dalam karakter seseorang dan berada dalam posisi tertinggi perannya dalam membuat runtuh semangat kader/anggota berorganisasi, karena orang-orang yang terjangkit virus ini akan merasa selalu lebih dibanding yang lain meskipun belum tentu benar bahkan terkadang terbukti salah. Merasa tinggi bisa dikarenakan faktor Usia, faktor kedekatan dengan pimpinan, faktor (terkesan) banyak bacaaan, faktor (merasa) banyak relasi diluar, faktor (sok) bisa dan lain sebagainya. Orang yang terjangkit virus ini biasanya ditandai dengan penggunaan kalimat "aku kan bla bla bla", "ane kan udah bla bla bla", "saya kan lebih tua dibanding dia", "Saya kan lebih dulu buat itu ketimbang dia" "Ane kan duluan masuk organisasi daripada dia", "pokoknya harus gini menurut aku" dan kalimat yang sejenisnya.

Ingatkah fenomena Iblis yang akhirnya menjadi makhluk yang dimurkai Allah, itu semua karena sifat merasa tinggi (sok). Iblis merasa lebih hebat karena diciptakan dari api ketimbang Adam yang hanya diciptakan dari tanah. Maka, jika kader/anggota lembaga sudah merasa tinggi maka lambat laun dia akan pergi dan menjadi tidak aktif jika tidak mendapat perlakuan sebagaimana maunya dia. Namun, dapat dipastikan orang-orang berkarakter seperti ini kemanapun dia pergi akan mengalami kondisi yang sama, dia hanya mau dilayani dan diakui tanpa ingin melayani dan mengakui.

2. Persepsi Diri. Hal ini sebenarnya lebih kepada unsur meletakan pengharapan (standar) yang tinggi dan besar kepada organisasi dan lingkungannya. Kondisi ini juga berkaitan terkait proses komparasi (membandingkan) antar lembaga, ini terjadi karena si kader memiliki riwayat organisasi tidak hanya satu.

Kader/anggota akan membandingkan antara kondisi serta pola manajemen di organisasi sekarang (A) dengan organisasi lainnya (B). Misalnya pola rapat, mungkin di organisasi A rapat dilaksanakan dengan santai dan flexibel sedangkan di organisasi B rapat itu dengan suasana serius, kaku, dan tersentralisasi kepada pimpinan. Lambat laun dia akan merasa bahwa organisasi A ini tidak benar dan bagus karena menurut rapat yang benar itu seperti diterapkan oleh organisasi B, maka dia pun akhirnya malas untuk kedepannya hadir pada rapat dan kegiatan yang dibuat organisasi A. Dan yang lebih parahnya adalah dia membandingkan kondisi dia berada hanya berdasarkan omongan orang lain tentang organisasi yang ideal.

Maka disinilah tantangan bagi kader/anggota untuk dapat memahami kondisi dan mampu beradaptasi dengan organisasi yang dia digeluti dan selalu membuka ruang-ruang diskusi untuk mencari solusi terbaik dan paling relevan. Tidak salah banyak organisasi yang kita ikuti, yang salah adalah ketika kita memaksakan persepsi (maunya) diri kita sendiri kepada organisasi. Karena setiap organisasi/lembaga tentu memiliki karakteristik dan pola manajemen tersendiri.

3. Posisi. Biasanya ini terjadi jika seorang kader memiliki lebih dari satu organisasi. Sehingga dia merasa kecewa ketika di organisasi dia mendapatkan posisi yang biasa-biasa saja padahal diorganisasi lain dia mengisi posisi penting dan strategis. Atau penyebab lainnya adalah tentang usia, merasa bahwa dia lebih senior tapi kenapa harus dipimpin oleh junior. Atau bisa juga soal kompetensi, secara umum orang sadari dan mengakui bahwa dia adalah orang pintar dan menguasai bidang tertentu namun diorganisasi ini pada bidang yang dikuasai dia hanya menempati posisi kedua (wakil/sekretaris-red) atau bahkan hanya sebagai anggota. Maka dengan kondisi diatas, secara perlahan dia akan mundur teratur dan mulai merancang skema alasan untuk menghindar secara pelan-pelan hingga akhirnya hilang dari peredaran organisasi. Sederhananya ini hanya karena soal gengsi.

Yang perlu disadari dan dipahami oleh para organisatoris atau yang baru hendak bergabung dengan organisasi adalah tidak ada di dunia ini satu lembaga pun yang berbasis kader dan kuantitas (Massa,red) yang seluruh kadernya terlibat aktif 100% baik secara kehadiran maupun sumbangan gagasan, jika ada coba tunjukan kepada saya 1/2 organisasi saja yang seluruh anggotanya aktif. Kecuali lembaga yang didirikan tiba-tiba oleh kumpulan orang dan hanya beranggotakan 3 orang; satu jadi ketua, satu jadi sekretaris dan satu jadi bendahara. Kondisi ini sudah barang tentu dipastikan aktif. Hehehehee

Solusi atas fenomena tersebut agar menemukan keselarasan dan kesinambungan hubungan maka yang perlu dilakukan adalah pertama adalah Luruskan Niat kembali apa tujuan kita masuk dan bergabung ke dalam organisasi, apakah untuk mengabdi atau mencari serta meraup materi/pundi-pundi (uang-red) atau untuk mendapatkan posisi/jabatan yang tinggi. Ini perlu dijawab oleh nurani dan pikiran yang tenang. Kedua, turunkan standar dalam berorganisasi baik kepada diri sendiri maupun lingkungan dan berikan makna ulang tentang definisi Aktif itu seperti apa. Banyak organisasi/lembaga menetapkan standar aktif adalah harus selalu hadir pada setiap kegiatan dengan mengabaikan kondisi dilapangan.

Pertanyaanya adalah apakah itu rasional atau mampukah kita juga memenuhi standar tersebut? Padahal tidak ada satupun kader/anggota organisasi manapun yang datang dari kampung asalnya untuk masuk organisasi, kita semua masuk dan bergabung dengan organisasi karena faktor panggilan hati. Ini disebabkan kita menyadari bahwa tidak cukup hanya menjadi pintar secara akademis namun perlu juga cerdas secara sosial. Maka itu semua bisa kita dapatkan saat berorganisasi. Lantas kenapa tiba-tiba kita merubah organisasi menjadi sesuatu yang utama diatas segala-galanya, bukankah lebih indah jika organisasi dan aktifitas lainnya disinergisasikan saja? Kita mencari titik tengah dan tititk temu agara semua kepentingan dan kegiatan bisa terlaksana dengan baik.

Maka yang diperlukan saat ini adalah adanya diskursus lebih mendalam untuk menyepakati standar aktif dalam berorganisasi itu sendiri. Menurut saya, seseorang disebut aktif dalam berorganisasi cukup untuk memenuhi hal berikut :
1. Selalu menjalin komunikasi antar sesama anggota/kader, minimal mengupdate info kegiatan yang akan dilakukan organisasi atau hanya sebatas saling berbagi canda di grup lembaga, atau
2. Mengerjakan dan berusaha untuk menyelesaikan tugas yang diberikan secara optimal dan dalam waktu sesingkat-singkatnya bukan sekedar mengedepankan alasan-alasan penolakan bergaya klise, atau
3. Memberikan sumbangsih ide dan gagasan secara berkesinambungan untuk organisasi, meskipun belum bisa hadir raga/fisik secara langsung, atau
4. Selalu mengkonfirmasi (membalas pesan) setiap informasi yang diterima baik perihal rapat, kegiatan ataupun hanya sebatas sms sapaan sesama anggota organisasi, atau
5. Selalu berusaha semaksimal mungkin untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang diadakan organisasi meskipun hanya 10% kontribusi yang diberikan. Misalnya rapat dilakukan dalam durasi 60 menit, maka dia berusaha untuk selalu hadir meskipun hanya 1-2 menit, atau
6. Memberitahukan kondisi pribadi, Target pribadi (baik bersifat akademis maupun organisasi), kompetensi dan minat/ketertarikan bidang kepada pimpinan organisasi agar dilakukan pemetaan dan pemberian tugas yang proporsional.

Maka, jika standar diatas yang kita berikan dan diterapkan dalam organisasi kedepan tidak akan ada benih-benih perselisihan dan kekecewaan karena disebabkan virus ketidakaktifan anggota/kader. Hal itu sudah selesai, karena setiap anggota akan berkontribusi dan bergerak sesuai potensi diri dan kondisi yang sedang dialami. Fenomena ketidakaktifan secara sederhana selalu hanya disebabkan karena kondisi komunikasi yang tidak terjalin dengan baik antar kader/anggota.

Maka selanjutnya yang perlu dilakukan adalah membangun komunikasi yang aktif dan intens, budayakan saling memahami kondisi antar sesama anggota/kader, resapi situasi yang terjadi dan buatlah strategi baru untuk menghadapinya. Secara sederhana kita bisa menyebutnya siasasti kondisi dan nikmati proses yang terjadi. Jangan pernah mudah menyerah dan kalah hanya karena kondisi.


Sejatinya setiap kader disebuah organisasi-lembaga adalah ban serap. Dalam artian kita harus siap ditempatkan dimana saja dan dipanggil kapan saja dalam rangka berdedikasi dan berkontribusi dalam organisasi. Tanpa melihat gengsi dan posisi, bahkan seorang leader sejati adalah yang mau mengutip sampah yang ada karena leader itu adalah pelayan bagi anggotanya, maka jika leader saja mau mengutip sampah lantas kenapa kita sebagai kader enggan untuk terlibat lebih dan berkontribusi secara aktif.

Terakhir, perbedaan antara organisatoris dengan yang bukan adalah pada sikap. Organisatoris itu meminta tugas bukan menunggu tugas, menciptakan dan menjemput momentum bukan menunggu momentum, membantu secara cepat bukan menunggu disuruh terlebih dahulu. Menjadi organisatoris yang baik adalah harus memiliki sikap kritis, kritis bukanlah usaha mencari kesalahan melainkan kemampuan melihat dan mendeteksi kekurangan lantas menghadirkan solusi atas kondisi tersebut.

Semoga kita semua mampu menjadi pribadi bermanfaat dan terus menginspirasi sesama. Wallahu A'lam Bish Shawab.
*Disampaikan dihadapan para peserta Training Dasar Organisasi yang diselenggarakan oleh KAMMI Daerah Banda Aceh, Sabtu (14/5) bertempat di Aula SMK Al-Mubarkeya Kuwait, Kayee Ie, Aceh Besar. Pukul 16.30-18.00 Wib. Dan difasilitasi oleh Bung Syahrul sebagai moderator forum.

**Artikel ini sebagai pelengkap obrolan saat penyampaian dan sengaja ditulis lebih panjang dan sedikit komplit jika dibandingkan saat dalam forum agar tidak mengurangi semangat berdiskusi serta menjadi pengingat bagi kita semua terkhusus bagi saya pribadi. (juga tersedia rekaman diskusi)
Semoga Bermanfaat

Putra Rizki Pratama - Pengacara (Pengangguran Banyak Acara)
#SaleumPRP

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »