#Katalisasi #Pemuda #Sabang
Kemarin saat bertemu dengan salah satu kawan di Sabang, dia berkata "Tra kencang kali konsolidasi qe eee. Ku liat dah sereng qe ngumpul dan diskusi sama anak muda di sabang ni. Itu jadi qe naek ato qe cuma dukung orang aja".
Mendengar sapaan itu saya sedikit tersenyum dan senang. Ternyata dia masih peduli dengan kami-kami ini. Hehehee
Tertarik dengan pandangannya maka kami pun sedikit berdiskusi. Dalam diskusi yang terjadi saya menyampaikan pandangan dan gagasan tentang Katalisasi Pemuda Sabang.
Saya menyampaikan, sebenarnya apa yang sedang digagas ini juga tergolong tindakan yang lambat dan ini adalah bagian melanjutkan perjuangan para pendahulu, jika dibandingkan dengan semangat pemuda, sejarah juang pemuda hingga potensi anak muda itu sendiri. Anak muda sudah seharusnya untuk membangun kesolidan barisan agar kondisi lingkungan dapat terperhatikan dan diperjuangkan secara bersama-sama.
Apalagi dalam konteks Sabang, dengan sumber daya Alam dan anggaran yang cukup mumpuni. Semestinya tidak boleh lagi ada kemiskinan di Sabang ini jikapun itu tidak dapat dihindari maka tidak boleh mencapai persentase yang cukup tinggi seperti saat ini. Apalagi saat ini data menunjukan ada ratusan bahkan mencapai angka 1000an pengangguran di Sabang (*menurut data BPS. Jika salah silahkan dikoreksi).
Tentu ini kondisi yang sangat memiriskan, ibaratnya seperti tikus mati dilumbung padi. Hal ini tentu tidak serta merta kita hanya bisa menyalahkan pemerintah kota baik itu pihak eksekutif dan legislatif semata. Ada saham kesalahan Anak Muda disana.
Kenapa saya menyebut bahwa Anak Muda Sabang juga punya saham dalam keterpurukan daerah. Karena mayoritas kita Anak Muda hanya memilih diam dan apatis terhadap kondisi yang ada. Kita hanya menjadi penggerutu di meja-meja kopi tanpa berani menawarkan solusi kepada pihak terkait. Kita hanya menyibukkan diri berdebat untuk hal-hal yang kurang substantif ketimbang menjadi pribadi produktif secara gagasan.
Jika kita membandingkan apa yang sudah dilakukan Anak Muda di daerah lain dengan apa yang sedang anak muda sabang lakukan tentunya masih jauh panggang dari api. Namun, ini bukan menjadi alasan kita memilih untuk lempar handuk putih.
Maka untuk merubah kondisi daerah, salah satu faktor yang penting adalah kesolidan dan aktifnya peran Anak Muda dalam mengawal pembangunan bukan hanya soal Fisik/Infrastruktur melainkan juga soal Moral dan kelangsungan ekonomi produktif.
Selama ini mayoritas Anak Muda Sabang hanya menjadi pengekor elit-elit dan menjadi dayang para pemilik uang. Jarang sekali kita temui ada anak muda yang siap tampil di forum untuk menawarkan gagasan konkrit solutif, jarang kita temui ada anak muda menjadi patron perencanaan. Yang sering kita jumpai adalah corak pendomplengan label muda oleh generasi lanjut usia.
Solidnya Anak Muda bukan hanya untuk unjuk gigi dan diri diajang politik praktis semata, apalagi kita sudah memasuki tahun menuju Pilkada. Melainkan solidnya Anak Muda Sabang untuk tujuan yang lebih besar.
Anak muda sabang tidak boleh lagi terkungkung pada perbedaan pandangan politik atau terjebak dalam arus warna-golongan. Jika Anak Muda sudah solid maka kita akan menjadi sutradara bukan sebatas figuran dalam sinetron pembangunan.
Jika anak muda sudah solid, kita akan menjadi pemilik kontrak gagasan yang bisa kita tawarkan kepada semua pihak bukan sebatas hanya sebagai tukang tanda tangan lembaran gagasan milik orang/calon. Jika Anak Muda solid maka kita akan menjadi wasit permainan bukan sekedar jadi Pemandu Sorak dipinggir lapangan. Jika kesolidan itu teraplikasi dengan baik, maka tidak ada lagi kita temui Anak Muda yang mengejar tumpukan-tumpukan kupon, mencari-cari sirup/gula hanya untuk bertahan hidup sehari dua hari, atau tidak akan kita lihat ada praktik siraman lembaran uang hanya untuk mengikat leher Anak Muda menjadi peliharaan si pemilik ambisi kuasa.
Kita harus berjiwa besar untuk mau belajar dari daerah lain. Lihat tetangga kita Aceh Besar, saat ini anak mudanya sudah mampu membangun satu gerakan bersama untuk menawarkan gagasan kepada para calon pemimpin kedepan. Liat pula kesolidan anak muda barat selatan (*Barsela) yang sudah memiliki satu sumbu untuk mempersatukan berbagai pandangan.
Solid disini bukan dalam artian memaksa seluruh anak muda sabang untuk satu pilihan atau bahkan memasuki rumah dengan hanya satu warna saja. Melainkan solid pada tataran bahwa kita sepakat untuk lebih Peduli, Aktif dan menawarkan gagasan solutif. Sehingga esensi Anak Muda sebagai Agent of Change, Moral Force dan Social Control dapat terjalani dengan baik.
Sehingga yang mengikat kesolidan Pemuda adalah pada nilai politik bukan pada keputusan elit politik. Nilai yang dimaksud adalah pengabdian, pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan hidup serta nilai kejujuran.
Oh iya, Anak Muda yang saya maksud adalah seperti disebutkan didalam UU No 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan yaitu mereka yang berusia 16-30 tahun. Selebih itu mari kita sebut mereka sebagai generasi lanjut usia. Jika ada yang mengaku Anak Muda tapi sudah melebih jatah usia sesuai UU maka itu adalah bentuk pendomplengan diri agar mendapat ruang populis lebih.
Setelah panjang lebar saya berceloteh, si kawan hanya mengangguk-anggukan kepala entah tanda sepakat atau tanda sudah bosan dengan hidangan berat ini.
Namun, saya tetap bemimpi bahwa akan ada masa dimana Anak Muda Sabang berada dalam barisan yang solid dan mampu berperan lebih dalam membangun daerah tercinta ini. Akan ada masa dimana Anak Muda Sabang menjadi patron pembangunan, akan ada masa Anak Muda Sabang menjadi penyumbang dominan dalam gagasan perencanaan. Bahkan saya bermimpi akan ada masa Pulau kecil nan indah ini dipimpin oleh Anak Muda yang benar-benar Potensial, Jujur dan Friendly.
*Tulisan ini saya sajikan dari hasil rekam obrolan sembari menunggu pendamping saya masuk salon agar terlihat lebih kinclong lagi.
Selamat menikmati hari Meugang pertama ^_^
Sabang, 04 Juli 2016
#SaleumPRP
