Ada seorang pria tergabung dalam sebuah tim sepak bola, dia sedikit unggul dibanding yang lain sehingga dia pun akhirnya lupa bahwa dia sedang berada dalam tim (A). Karena ambisi dan terlalu pongah sikap dia terlalu berani melawan sang manajer beserta pelatihnya.
Akibat tingkahnya itu dia akhirnya dikeluarkan dari tim inti dan mendapat peringatan keras. Dan mendapat sanksi hanya sebagai pemain cadangan sekaligus sebagai penggembira tim A. Tak terima dengan perlakuan dan sanksi yang diberikan akhirnya dia berniat ingin membalas perlakuan sang manajer, pelatih dan teman se-tim nya karena tidak mau membela dia saat diberikan sanksi.
Untuk memuluskan niatnya, dia membangun komunikasi dan bekerjasama dengan tim lawan kita sebut saja tim B. Kesepakatan yang dibuat adalah bagaimanapun Tim dia harus kalah dan tak boleh menang dalam pertandingan kedepan. Dan kemenangan itu akan diberikan bagi tim lawan karena sudah membantunya mewujudkan ambisi dia nantinya.
Mulailah dia menyusun siasat, pertama dia memasang wajah polos nan sikap legowo akan sanksi yang diberikan. Harapannya kedepan dia akan ditarik kembali sebagai pemain inti bahkan berharap diberikan kepercayaan sebagai Kapten tim.
Kedua, dia terus berlatih dan berupaya merangkul kawan-kawan yang bisa untuk diajak bergabung bersama dia nantinya. Perlahan-lahan dia memberikan obrolan buaian kepada banyak pihak, setidaknya dia akan mendapat simpati dari pihak lain nantinya. Begitulah siasat.
Singkat cerita, akhirnya dia berhasil menjalankan seluruh siasatnya. Sekarang dia kembali masuk kedalam tim inti bahkan telah menjadi Kapten tim. Dan bonusnya sekarang dia semakin dekat dan dipercaya oleh manajer dan pelatih mereka. Dan keberhasilan spektakulernya adalah dia bisa memunculkan satu posisi baru yaitu wakil pelatih.
Setelah mendapat itu semua, sekarang dia mulai menaikan tingkat permainan dan siasat. Kesempatan menjadi kapten dia gunakan untuk mengacak-ngacak tim yang sudah ada dengan bantuan dari wakil pelatih tadi. Pertama sekali, dia mengganti posisi para pemain awal dan menempatkan "orang-orang" dia. Padahal secara kemampuan mereka jauh dari kata mumpuni, tapi itulah targetnya yaitu melumpuhkan kekuatan tim dia sendiri agar tim lawan mudah menang.
Setelah itu dia melancarkan taktik lainnya yaitu membentuk tim sorak. Secara kasat mata mereka tampak sebagai tim penyemangat dipinggir lapangan, namun yang tersirat adalah tim sorak disiapkan untuk menyoraki sekeras-kerasnya kesalahan sekecil apapun yang dilakukan oleh tim dia nantinya dengan harapan akan menciutkan mental dan semangat para pemain.
Langkah ketiga yang diambil adalah dia memberikan masukan dan bahkan menjadi penyumbang strategi bagi tim lawan guna bisa menang secara mutlak dan terkesan elegan bagi para penonton.
Alhasil, diakhir pertandingan maka kemenangan sudah barang tentu menjadi milik tim lawan jika tim A tidak menyadari akan siasat yang sedang dihadapi.
Begitulah, jika dendam sudah menguasai hati. Maka semua hal akan dilakukan guna memuaskan ambisi diri meskipun tak manusiawi.
Semoga kita terhindar dari orang-orang yang berperangai "duri dalam daging".
Khusus untuk si "duri dalam daging", apapun hasilnya dia tetap akan mendapat untung. Jika Tim lawan menang dia akan bahagia dan tentu mendapat jatah dari hadiah yang ada. Begitupun jika tim dia yang menang, tentu sudah pasti dialah yang memegang tropi itu.
*ini adalah kisah imajiner ^_^
#SaleumPRP
