CATATAN HARKITNAS

Sudah 103 tahun bangsa Indonesia memperingati hari kebangkitan nasional, sebuah hari yang menjadi momentum dan proklamasi akan keberanian melawan keterpurukan. Tepatnya pada tanggal 20 mei 1908 sebuah organisasi yang diprakarsai oleh seorang dokter dari sekolah STOVIA (School tot Opleiding voor Inlandsche Artsen) bernama Soetomo bersama beberapa rekannya dilahirkan. Wadah yang ditujukan untuk menghilangkan ketertinggalan bangsa ini, organisasi tersebut diberi nama dengan nama Boedi Oetomo yang nantinya akan menjadi perhimpunan para pelajar dari seluruh daerah.
Boedi Oetomo yang dimaksud oleh pendirinya adalah perkumpulan yang akan mencapai sesuatu berdasarkan atas keluhuran budi, kebaikan perangai atau tabiat kemahirannya. Pada perkembangannya, organisasi ini mulai menanamkan pemahaman tentang Tanah Air Indonesia dan merintis kesadaran membangun relasi yang makin erat di antara suku-suku dan kelompok di Indonesia atau dengan kata lain Boedi oetomo mengajarkan tentang gagasan kebangsaan. Itu pula yang menjadi akar sejarah antara Boedi Oetomo dan lahirnya Sumpah Pemuda pada 20 tahun sesudah itu. Berdirinya Boedi Oetomo diharapkan mampu mejadi perekat antar kelompok pemuda maupun suku-suku yang ada pada bangsa ini. Sehingga hal ini mampu menjadi fondasi dan landasan kuat untuk melahirkan kemerdekaan bagi bangsa .

Saat ini, kita kembali memperingati Hari bersejarah tersebut dan bertepatan dengan usia 13 tahun reformasi. Namun, jika kita sudi untuk berkaca pada kehidupan maka akan muncul banyak sekali pertanyaan yang mungkin akan sulit terjawab. Pesan moral apa yang dapat kita petik dari peringatan sejarah ini? Bagaimana kondisi bangsa hari ini? Apakah karakter visioner dan semangat pendahulu mampu bertransformasi kepada kita? Apakah kita lebih baik, adil, arif dan bijaksana dari pendahulu? Semua pertanyaan ini harus mampu kita transformasikan dalam upaya introspeksi diri agar semangat meninggalkan ketertinggalan mampu dan terus kita tularkan kepada semua orang. Dengan kata lain, pertanyaan di atas bukan untuk membuat kita lemah dan hancur melainkan untuk men’cambuk’ diri kita agar terus berupaya untuk berubah dan semangat melakukan perubahan dengan tidak melupakan sejarah.
Sudah se-abad lebih bangsa ini memperingati hari kebangkitannya, namun kondisi masyarakat, bangsa dan Negara masih saja terus berada dibawah garis krisis. Banyak sekali kebijakan pemerintah yang akhirnya menyengsarakan rakyat namun membahagiakan para penguasa-penguasa bejat. Kekayaan alam yang dimiliki bangsa ini terus saja di obral kepada pihak asing dengan semena-mena. Belum lagi praktek KKN (Korupsi,Kolusi dan Nepotisme) yang terus menjadi “tradisi” para pejabat bangsa ini. Seolah-olah bangsa dan Negara ini merupakan warisan hanya untuk mereka.
Jika pun ingin melihat protret penegakan hukum, maka kita akan mendapati kondisi dilapangan yang sangat jauh dari harapan. Praktek supremasi hokum yang menganut sistem tebang-pilih, menambah daftar panjang buramnya potret bangsa ini. Hukum yang bisa dibeli dengan segepok uang atau iming-iming kesejahteraan, sehingga membuat para pelaku kebejatan itu bebas dari cengkraman hukum. Wajar saja jika rakyat jelata tidak lagi percaya kepada para penegak hukum konon lagi pemerintah. Sehingga bisikan “yang punya uang dialah yang kebal hukum” terus menjadi dongeng sebelum tidur bagi rakyat kecil.
Kesejahteraan yang semakin lama terus menghilang bagi rakyat. Kemelaratan yang terus menggerayangi mereka, kapitalisme dan liberalisme yang terus dipraktekkan. Ketidakadilan yang terus dirasakan. Kekejaman pemerintah yang terus disaksikan, membuat sifat dan sikap apatis masyarakat jelata ini menjadi sebuah kewajaran. Mereka tak lagi mempercayai para elit pemerintah. Menganggap hak-hak mereka telah dikebiri oleh kebijakan orang-orang “pintar” tersebut. Belum lagi tontonan perilaku elit politik yang sangat menjijikkan bagi mereka dan membuat mereka semakin geram dengan kondisi saat ini.
Partai politik (parpol) yang hanya dijadikan sebagai alat meraih kekuasaan untuk meraup kekayaan, dan memposisikan rakyat sebagai objek semata. Ini merupakan wujud pengkhiatan politikus akan nilai suci parpol sebagai wadah aspirasi rakyat. Sehingga mereka hanya menjadikan parpol sebagai wadah “arisan’ dan tempat berkumpul para penguasa-penguasa tersebut. Mereka telah salah mengartikulasikan kepentingan-kepentingan rakyat ke dalam tujuan-tujuan politik tertentu, padahal sebenarnya pandangan-pandangan umum rakyat tidak seperti itu. Kepentingan bangsa dan negara yang seharusnya menjadi prioritas, hanya dijadikan sebagai objek melanggengkan hasrat semata dan akhirnya terlupakan.
Padahal dengungan demokrasi, reformasi, globalisasi tak mampu memberikan keadilan, kesejahteraan, ketenangan dan rasa aman bagi masyarakat. Pelayanan kesehatan dan pendidikan yang tak memadai terus saja dirasakan oleh bangsa dan negeri ini. Apatisme antar masyarakat terasa begitu kental. Angka kriminalitas terus menghiasi wajah Tanah Air ini. Masyarakat dituntut untuk menyelesaikan masalahnya sendiri dan dengan cara mereka sendiri, sementara para elit pemerintah terus berteriak memutuskan kebijakan sesuai kemauan pribadi dan golongannya.
Kekayaan alam negeri ini tak mampu memberi kebahagiaan bagi masyarakat, karena sulit melewati saringan yang dimiliki oleh para pejabat. Sehingga hasil kekayaan itu hanya akan menjadi catatan dalam goresan sejarah yang tak pernah dirasakan oleh masyarakat yang ada dan hidup di Kepuluan Nusantara ini dan berteduh dibawah Merah Putih gersang ini.


Kebangkitan Bersama
Sampai saat ini, solusi terhadap problematika yang sedang meradang dikehidupan masyarakat belum mampu teratasi. Dan kita pun belum mampu menemukan sosok pemimpin yang arif, bijaksana, dan mementingkan kepentingan serta nasib bangsa diatas kepentingan pribadi dan golongan, juga mampu mengatasi segala problema tersebut. Era reformasi ini hanya mampu menyuguhkan prosesi pergantian pemimpin (Soekarno-Soeharto-BJ Habibie-Abdurrahman Wahid- Megawati Soekarnoputri- Susilo Bambang Yudhoyono jilid 1- dan Susilo Bambang Yudhoyono jilid 2). Namun tak mampu meruntuhkan gaya-gaya kesewenangan yang telah menjadi tradisi pejabat, sehingga gerbong bangsa ini untuk menyatu dengan lokomotif kesejahteraan dan kemakmuran masih menjadi khayalan.
Ataukah momentum Hari Kebangkitan Nasional hanya menjadi ritual bersama semata tanpa mampu memahami substansinya. Atau nilai-nilai kebangkitan tersebut telah memudar dengan berseminya kebangkitan KKN, kebangkitan kapitalis,kebangkitan praktek prostitusi, atau kebangkitan angka kriminalitas pejabat terhadap bangsanya?
Melalui momentum Harkitnas ini, semoga kita mampu mengajak fikiran dan hati kita untuk bercermin pada sejarah dalam rangka instrospeksi diri. Apa yang telah kita lakukan dan peran apa yang telah kita ambil dalam rangka mempercepat kebangkitan bangsa ini. Boedi Oetomo telah mengajari kita bagaimana setiap orang harus mengambil peran dalam upaya mempercepat kebangkitan bangsa sehingga tak terus terpuruk dalam ketertinggalan. Kita harus mampu menyingkirkan rasa ego yang ada dalam pribadi kita dan menggantinya dengan semangat kebangsaan dan ke-Indonesia-an. Jangan pernah ingin mewariskan kesengsaraan seperti yang pernah kita rasakan saat ini kepada anak-cucu kita nantinya. Harapan itu masih ada, mari kita bergandengan tangan untuk menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan bagi Bangsa, Negara dan Tanah Air kita.Semoga./
By: Putra Rizki Pratama

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »