Ketika "Sekuler" Merambat Dunia Aktivis Dakwah (Sebuah Otokritik)

Setidaknya kita patut untuk senang dan bersyukur kepada Allah karena secara data semakin banyak orang yang berbondong-bondong bergabung dengan dunia dakwah bahkan mayoritas dari mereka berani memproklamirkan diri sebagai bagian dari aktivis dakwah. Labelisasi aktivis dakwah kepada seseorang harus dipahami dan disadari dengan pasti akan melahirkan sebuah konsekuensi pada akhirnya. Dengan begitu banyaknya orang yang berani mengganti bajunya dengan baju aktivis dakwah maka diharapkan kerja-kerja dakwah akan semakin menjadi ringan. Sehingga akhirnya dilahirkanlah sebuah konsep untuk mempercepat suksesi agenda dakwah yaitu dengan membagi wilayah kerja/garapan (pos) bagi para kadernya. Adapun wilayah garapan tersebut biasanya adalah siyasi, dakwi,kaderisasi, dan ilmi. Yang setiap pos memiliki tugas dan fungsi masing-masing namun tetap dalam satu sirkulasi yang sama.
Adapun tujuan pembagian pos itu adalah untuk mempermudah kinerja para kader-kader dakwah dalam bergerak dan penempatannya pun sesuai dengan muyul dan mauhibbah (minat dan bakat) kadernya sendiri. Kader yang memiliki kecenderungan akademik maka akan diarahkan ke ilmi, yang suka berdiskusi dan memiliki daya nalar kuat akan diarahkan ke siyasi,begitu seterusnya. Sungguh sebuah ide yang sangat brilian karena mampu menghasilkan konsep yang luar biasa yang jika mampu dijalankan dengan baik maka akan banyak energy yang dapat terselamatkan.

Namun sungguh disayangkan dalam aplikasi dilapangan ternyata terjadi penyelewangan tujuan, banyak yang akhirnya terjebak dalam sekulerisasi kinerja. Sekulerisasi (pemisahan) ini terjadi karena keengganan individu untuk mengkaji lebih dalam nilai-nilai yang terkandung dalam pembagian ranah kerja tersebut.
Sehingga yang terjadi adalah setiap pos bergerak sendiri-sendiri dan akhirnya “menceraikan” diri dari sirkulasi yang ada. Kader yang bergabung dalam ilmi sibuk dengan ke-ilmi-annya, yang di dakwi sibuk dengan agenda-agenda besar dakwinya, yang kaderisasi sibuk dengan instruksi dan evaluasinya dan yang siyasi sibuk dengan narasi dan demonstrasinya. Sehingga agenda yang dilahirkan akan saling berbenturan satu sama lainnya bahkan menjadi kompetitor utama, dan tidak ada usaha sinkronisasi antar setiap pos. Jika ada agenda siyasi yang notabene adalah demonstrasi/diskusi berbau politik maka kader diluar ranah ini akan mencoba menutup hidungnya agar tak mengendus agenda tersebut apalagi bergabung didalamnya, begitu pula jika ada agenda dakwi yang notabene adalah kajian-kajian maka yang tak termasuk dalam lingkaran itu pun akan lebih senang untuk bercengkrama ria di kantin atau tempat yang “aman” dari radiasi kajian.
Kondisi ini akan terus terjadi jika setiap individu tak mau melihat segala sesuatu yang terjadi dengan perspektif yang kompleks. Bukan hanya menilai setiap kegiatan yang ada dari kacamata dan nyaman atau tidaknya ikut agenda tersebut. Karena pada dasarnya semua agenda yang telah dicetuskan oleh kader-kader dakwah sudah barang tentu bertujuan untuk mengajak kepada kebenaran yang hakiki. Tak akan pernah mencapai puncak kejayaan dakwah jika setiap kader-kader yang menjadi komponen dalam membangun bangunan gerakan dakwah ini masih senang berada dalam kamar “sekulerisasi’ kegiatan dan pos yang ada.
Hari ini yang harus dilakukan adalah proses “rujuk” setiap pos yang ada dan saling menyokong setiap kegiatan yang ada. Namun bukan berarti semua kader harus diarahkan kepada satu aktifitas yang mungkin jika dipaksakan akan melahirkan “pemberontakan” yang tak diinginkan, biarkan saja kader-kader itu berada dalam lingkungan yang sesuai dengan muyul wal mauhibbah mereka yang penting mereka tetap menyokong kegiatan yang ada. Jika ada waktu senggang, ya dijenguk-jenguk lah “tetangga” sebelah apakah kaderisasi ke dakwi atau dakwi ke siyasi karena “ga da antum ga rame, ada antum tambah asyik”.
Namun yang perlu diingat adalah setiap pos harus mampu melahirkan kegiatan yang merangkul semua kader, bukan melahirkan kegiatan-kegiatan yang akan mendiskreditkan kader karena ketidakmampuan/ketidaktahuan dia akan substansi dari kegiatan tersebut. Masa gemilang dakwah akan segera bersinar, dan semoga saat waktu itu tiba kita masih berada dalam lingkaran ini. Wallahu a’lam bishawab.


penulis: Putra Rizki pratama
aktivis mahasiswa Aceh

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »