![]() |
A : aku ga
sepakat dengan kalian usulkan kemarin. agenda itu udah ga realistis ge tuk saat
ini
B : trus apa
usulmu. ga usah sok protes lah. ikutin aja, ni udah keputusan lembaga
Kondisi lainnya
X : bro ga
pernah nampak ge koq sekarang, kmna aja slama ni. masak seorang Y ga aktif ge.
Y : hehehe,
sorry bro. aku sekarang dapat ladang baru yang siap nerima gaya aku dan
suasananya penuh dengan kedinamisan program dan menghargai diskusi.
Yuuup.
itu sepenggal kisah yang saya yakin kita semua pernah mengalami selama
bergabung dengan lembaga/organisasi, terserah apapun model dan genre organisasi
baik itu yang fokus ke seni, keilmuan, dakwah, gerakan, pembangunan de el el.
Sebagai
makhluk hidup yang berada dalam strata tertinggi karena telah dianugrahi
akal, maka hidup bersosial tidak akan bisa dihilangkan. Ayam aja hidup sosial,
hanya mereka berada dlm kestatisan pola hidup. Nah, kita sebagai manusia
berarti harus pula hidup bersosial dan agar tak kalah dengan ayam maka yang
perlu dilakukan adalah membentuk lingkungan dinamis.
Dalam
merancang pola kedinamisan maka sudah barang tentu, perbedaan pendapat dan gaya
akan ikut bermunculan antara satu personal dengan personal lainnya. Pada
prinsipnya itu bukan masalah melainkan adalah rahmat. Ingatkan pesan Nabi saw
" perbedaan itu adalah rahmat".
Khususnya
untuk organisasi agar meraih kesuksesan dan kemajuan yang mumpuni maka yang
perlu dilakukan oleh para penghuni organisasi tersebut adalah membudayakan
rumus BMP Law yatitu Berbeda dan menerima Perbedaan. Berbeda disini bukan
berarti ditafsirkan dalam bentuk ide yang acak dan tingkah brutal.
Melainkan,
setiap individu yang ada dalam organisasi harus membudayakan tradisi diskusi
bukan mempopulerkan prasasti Angguk-angguk doank dan menggerutu dibelakang.
organisatoris yang baik adalah mereka yang selalu siap berdiskusi dan berbagi
ide-ide segar agar melahirkan program yang aktual. jangan sampe program yang
ada malah memunculkan celotehan "itu itu aja, itu itu aja. ga
kreatif kali koq"
Jangan
sampai menjadi organisasi "kanibal" kreatifitas dan
"pemerkosa" kebebasan berfikir. maka tradisi berbeda harus
dibudayakan dengan aktif. keuntungan berbeda selain melahirkan program yang
segar, sudah barang tentu akan mengasah kemampuan retorika/bicara sesama
anggota organisasi. malu donk, gabung di organisasi tapi ngomong aja ga berani,
kalah ma bebek ntar.
Syarat
lainnya agar sebuah organisasi mencapi taraf dinamis dan bermanfaat kepada
berbagai pihak adalah adanya iklim Menerima Perbedaan. jangan sampai para
penghuni organisasi akhirnya menjadi makhluk-makhluk pendendam hanya karena ada
rekan organisasi yang berbeda dan sedikit mengkritik idenya.
Jika
budaya Berbeda dan Menerima Perbedaan ini sudah mampu teraktualisasikan maka
kesuksesan adalah hasil yang pantas diperoleh. Bonus dari BMP Law ini adalah
akan lahirnya objektifitas, sehingga dalam proses penempatan individu
didasarkan pada seberapa potensinya dia, bukan seberapa penurutnya dia kepada
atasan.
Jika
sebuah tugas diberikan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancuran.
Pesan pemimpin sukses dunia ini (Muhammad saw) tidak boleh kita lupakan, karena
sejarah telah mencatat kedinamisasan dan kesuksesan yang telah diraih dibawah
kepemimpinan beliau hanya dengan mempraktekan budaya menerima perbedaan dan
objektifitas.
Terakhir
mari saling menghargai pendapat yang berbeda. dan guna mengikis permusuhan maka
lakukanlah diskusi sehat bukannya dengan debat adu urat tak jelas ujung cerita.
Dan semoga BMP Law ini mampu kita terapkan dan akhirnya kita dapat menggenggam
kesuksesan kolektif bukan individual.
BMP
Law dapat diterapkan dalam semua lini kehidupan, bukan hanya diperuntukan dalam
dunia kelembagaan melainkan bersifat universal.
bertempat di
sebuah warung kopi dan ditemani segelas teh tarik dingin guna menendang ide-ide
yang segar.
Banda Aceh, 22
januari 2014
*Putra Rizki
Pratama
penulis adalah
Ketua GEMAR Aceh dan pegiat Lingkar Studi Kritis (LSK).

1 comments:
commentsMantrap, pukul samping kanan-kiri, muka belakang....pukul 16:01 wib dini hari ane baca (y)
Reply