Dari SABANG untuk DPRA


Kehebohan pesta demokrasi sudah semakin bergeliat dalam tatanan masyarakat. Mulai dari lingkungan akademis hingga ke penghuni warung kopi semua membicarakan perihal pesta tersebut. Pesta demokrasi yang dinamakan PEMILU (Pemilihan Umum) menjadi ajang bergengsi belakangan ini, seolah-olah para kontestan yang bertarung dalam Pemilu merupakan adalah satu-satunya calon terbaik dan terkadang promosinya pun mengalahkan seorang selebritis terkenal.
Menyahuti kehebohan ini maka para kontestan pun telah melakukan berbagai persiapan mulai dari publikasi dengan memasang spanduk,baliho dan poster-poster yang terkadang membuat mata lelah dengan pemandangan semak disekitaran jalan dan beberapa kontestan pun melakukan hal yang lebih eksis yaitu dengan mengkampanyekan diri ke beberapa media massa baik cetak maupun elektronik. Membangun konsolidasi dengan simpul-simpul massa hingga mempererat silaturrahim ke berbagai pelosok daerah. Yang kesemua itu merupakan langkah untuk mengambil hati dan mengeruk simpati masyarakat agar nantinya memilih sang calon pada hari pemilihan.

Kehebohan pemilu pun tak ketinggalan menerpa daerah paling ujung Indonesia yaitu Pulau Weh (Sabang-red). Sabang yang merupakan salah satu daerah dalam kawasan Indonesia menjadi salah satu daerah yang akan menjadi daerah pemilihan calon anggota legislatif. Pada Pemilu kali ini akan dipilih para calon legislatif yang akan mewakili rakyat di dalam gedung dewan tersebut baik di tingkat kabupaten/kota, Provinsi hingga Nasional (DPR RI).
Kota Sabang terletak antara 5°46’28” hingga 5°54’28” Lintang Utara dan 95°13’12” hingga 95°22’36” Bujur Timur dengan ketinggian rata-rata 28 meter diatas permukaan laut.  Yang memiliki luas daerah 153 KM2 dan terdiri dari hanya 2 (dua) kecamatan dengan jumlah penduduk pada tahun 2012 adalah 31.782 jiwa terdiri dari 16.137 laki-laki dan 15.645 perempuan, sehingga rasio jenis kelaminnya adalah sebesar 103. Jika dirinci menurut kecamatan, sebanyak 16.100 jiwa tinggal dikecamatan Sukajaya dan sisanya 15.682 jiwa tinggal dikecamatan Sukakarya.
            Pada hasil pemilu 2009 Kota sabang yang memiliki pemilih 23.821 jiwa menjadi daerah pemilihan yang sangat potensial namun tidak mampu mengantarkan satupun putra-putra terbaiknya menuju DPRA. Sungguh ironi, dengan jumlah pemilih yang begitu besar namun hanya menjadi donatur suara bagi calon lain yang hampir tidak memiliki ikatan dengan Sabang sendiri. Sehingga wajar, hari ini sabang menjadi “anak tiri” dari sisi memberikan perhatian yang tertuangkan dalam distribusi kebijakan maupun dana  aspirasi karena sang “wakil” yang ada tidak ada ikatan moral dengan sabang.

Menjaring Sang Wakil
Berdasarkan ketetapan KIP Aceh terkait jumlah Daftar Pemilih tetap (DPT) untuk pemilu 2014, Sabang memiliki 23.028 jumlah pemilih yang tersebar di 2 (dua) dapil. Maka menjadi hal yang sangat mungkin untuk mengantarkan minimal satu orang bahkan lebih Wakil Sabang sebagai anggota DPRA. Hal ini tentunya bukanlah didasari atas rasa primodialisme atau ego sektoral semata, melainkan sebagai langkah memajukan dan membawa kesejahteraan ke kota Sabang secara nyata. Tentunya wakil Sabang nantinya harus melalui proses seleksi yang ketat dalam hal penjaringan dan berani menandatangani kontrak politik dengan masyarakat. Dalam proses penjaringan maka ada beberapa kriteria yang dapat dijadikan indikator penilaian, yang pertama adalah dari sisi ketaatan pada ajaran agama, dan disinilah peran masyarakat mutlak dibutuhkan. Kedua dalam sisi mentalitas dan integritas personal. Nantinya seorang wakil Sabang tidaklah yang bermental korup, tidak asusila dan mampu menjadi panutan bersama. Pribadi yang memiliki integritas, dan mentalitas yang baik maka sudah barang tentu didasarkan kecerdasan keilmuwan serta didalam hati dan fikirannya adalah bagaimana berbuat yang terbaik bagi masyarakat bukan hanya demi pribadi dan golongan sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kepercayaan masyarakat.
Ketiga, harus teruji dalam hal kemampuan komunikasi dan membangun jaringan. Hal ini mutlak dibutuhkan oleh seseorang yang akan menjadi wakil rakyat di DPRA. Jika tak mampu berkomunikasi dengan baik, lantas bagaimana aspirasi masyarakat dapat tersampaikan dengan lugas dalam tataran pemerintah. Begitupula halnya dalam konteks membangun jaringan, menyambung dari kemampuan berkomunikasi maka jaringan dibutuhkan untuk menyempurnakan segenap program yang ada menjadi nyata.
Keempat, memiliki komitmen yang jelas dan membangun budaya transparansi, bukan sekedar paparan Cet Langet. Transparansi disini tak bisa dilepaskan dari sisi budgeting, bagaimana seorang wakil rakyat mampu membuat perjanjian dan berkomitmen membawa pulang dana aspirasi agar bernilai produktif sehingga mampu memberi angin segar bagi masyarakat Sabang. Komitmen untuk siap membela dan memperjuangkan segala yang berkaitan dengan sabang seperti pelabuhan bebas sabang yang hingga kini masih terkatung-katung.
Keempat kriteria tersebut tidak bersifat mutlak, sehingga dapat dimodifikasi ataupun ditambah guna melahirkan calon yang mumpuni dan keempat kriteria itupun tidak perlu dihubungkan secara apriori dengan seseorang atau tokoh-tokoh tertentu, namun harus digunakan untuk menjaring sebanyak mungkin putra-putra terbaik Sabang untuk menjadi wakil di DPRA.
Sudah cukup selama 2 periode (10 tahun-red) terakhir sabang hanya menjadi penyumbang suara tanpa mampu mengantarkan putra daerahnya sendiri. Untuk langkah visioner ini maka peran pemuda dan mahasiswa menjadi sangat penting. Terutama para mahasiswa yang menjadi icon Director of Change harus mengambil peran sebagai juru kampanye yang aktif, tentunya kaum intelegensia ini harus melepaskan diri dari tarikan partai politik dan menggantinya dengan semangat berkontribusi bagi daerah kelahiran dan tempat tinggalnya.
Sejatinya wakil DPRA dari dapil Sabang ke depan adalah orang-orang yang mempunyai mental baja dan berjiwa ksatria, berani mengatakan benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Kalau tidak, maka ia tidak mempunyai potongan untuk mewakili sabang ke depan. Karena tugas wakil daerah ke depan diyakini sangat berat, disamping beban pembangunan masyarakat berada dipundaknya, ditambah lagi beban psikologis karena mereka dipilih secara langsung, hal ini belum lagi diperparah dengan persoalan-persoalan kemasyarakatan lainnya.
Akhirnya, PEMILU 2014 diharapkan mampu menjaring putra-putri terbaik Sabang sehingga dipastikan akan dapat melahirkan wakil rakyat yang benar-benar memperhatikan pembangunan, kesejahteraan masyarakat sabang secara berkesinambungan. Semoga Insya Allah. Allahu a`alam.

*Putra Rizki Pratama- pemuda Sabang

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »