Dakwah VS Paradigma


Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.”
 (QS.Ali Imran : 104)

   Ayat tersebut di atas tentu tidak asing lagi di indra pendengar para pelantun ayat Al-Quran dan aktivis dakwah, ayat tersebut adalah salah satu dari sekian banyak ayat Al-quran yang berbicara tentang keutamaan dakwah. Fenomena sekarang adalah banyak orang yang berpikir bahwa dengan aktifitasnya sekarang sebagai mahasiswa maka jika dia ikut/bergabung dengan sebuah organisasi yang menyeru pada kebaikan  maka aktifitas kuliahnya akan terganggu. Ini adalah sebuah paradigma yang salah yang selama ini di biarkan berkembang, jika kita pahami lebih dalam lagi apakah mungkin sebuah aktifitas yang positif akan mengganggu aktifitas kebaikan/positif yang lain.

  Analoginya kita ibaratkan disaat kita sedang makan lalu kita minum seteguk air, apakah mugkin aktifitas minum tadi akan mengganggu aktifitas makan kita?. Jawabannya sudah pasti TIDAK melainkan dengan minum maka aktifitas makan kita akan menjadi lebih lancar dan menyenangkan. Nah, begitu pula dengan dakwah belum ada sampai hari ini teori yang bisa mengatakan dan membuktikan bahwa dakwah adalah sebuah “trouble” untuk aktifitas yang lain.

Tapi kan saya  jauh-jauh dari kampung untuk kuliah, kalo saya bergabung dengan sebuah organisasi nanti saya
ga fokus kuliah dan nilai saya anjlok berarti saya telah melalaikan amanah orangtua saya? Inilah pernyataan yang sering di lontarkan untuk membuat dirinya seolah-olah berada dalam posisi yang aman. Kita selalu mengkambinghitamkan “kuliah adalah amanah orang tua” sehinnga membuat kita tidak bisa menjadi individu yang lebih baik. Kalaupun kita ingin mengatakan bahwa hari ini kita mempunyai tanggungjawab untuk kuliah maka kita juga harus adil dengan diri sendiri, berarti kita tidak boleh nongkrong di kantin/kafe, ga boleh ke warnet, ga
boleh jalan-jalan dengan kawan, ga boleh duduk di pinggir lapangan, ga boleh pergi ma kawan ke
pantai,dll karena orangtua kita tidak pernah menyuruh kita untuk melakukan hal-hal tersebut.

Jadi ,tidak ada alasan lagi untuk menjadikan diri kita sebagai pribadi yang berada dalam “kegelapan” ibarat katak dalam tempurung,.ingat otak kita bukan selebar kertas A4 yang hanya bisa di tuliskan beberapa kata saja namun otak kita ini mampu menampung seluruh isi dunia jika kita ingin mengisinya. Diri ini tak selemah kapas yang bisa diterbangkan kapan saja oleh angin.

Wahai hamba Allah, ketika cahaya kebenaran itu telah terlihat jelas dan manfaat yang bisa kita raih begitu jelas. Maka gunakanlah dengan tanpa mempertimbangkan ini itu lagi dan lakukanlah segera. Jangan tenggelam dengan kata “seandainya”,”jikalau”,”kelak akan”, dan “bisa jadi”, tapi melajulah bagaikan sebilah pedang di tangan seorang pejuang. Melajulah bagaikan peluru ditangan seorang pemburu. Ingat kita semua punya peran dalam menebarkan benih-benih Islam di berbagai daerah termasuk lingkungan (Kampus) kita, jadi tidak pernah ada kata terlambat dan menunda untuk memulai penyebaran dakwah islam ini dalam berbagai bidang politik,pendidikan,ekonomi,seni,olahraga dan lain sebagainya).

Sebuah kata bijak,
“Dakwah tidak akan runtuh tanpa kita tapi kita akan runtuh tanpa dakwah,.Dakwah tidak membutuhkan kita tapi kita lah yang membutuhkan dakwah”

Apakah kita hanya akan menjadi penonton di balik layar yang menyaksikan ISLAM tegak di muka bumi ini tanpa berbuat sesuatu pun atau kita termasuk orang yang berada dalam barisan golongan yang menegakkan ISLAM, pilihan ada di tangan kita semua. Apakah kita hanya ingin memberikan selembar kertas yang berisi IPK yang tinggi kepada orang tua kita atau kita ingin memberikan
selembar kertas yang berisi IPK yang bagus dan juga kebanggaan dan kebahagiaan kepada orang tua kita karena mereka mempunyai seorang anak yang cakep juga soleh dan prestasinya oke.

Ingat hidup tak mengenal siaran tunda. Maut pun tak menunggu hingga kita tua tuk menghampiri dan membuat kita tak mampu membuka mata yang indah lagi. Buktikan kita adalah hamba Allah yang pandai bersyukur dan menggunakan karunia dari-Nya untuk ber amar ma’ruf dan nahi mungkar, sehingga kita menjadi orang yang beruntung seperti disebutkan ayat diatas dan dimasukan ke syurga-Nya kelak.Amin.

By:Putra Rizki Pratama

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »