Sabda Rasulullah saw, ramadhan adalah bulan yang paling mulia di sisi Allah. Oleh karena itu, detik-detik, menit-menit, jam-jam, dan hari-hari yang kita lewati selama ramadhan adalah sangat berharga dan utama. Kebaikan yang hanya bernilai satu pada hari biasa, namun menjadi berlipat-lipat saat ramadhan. Ibadah sunat diberi pahala seperti menjalankan ibadah wajib, ibadah wajib pahalanya dilipatgandakan berpuluh-puluh kali lipat, bahkan pahala orang yang berpuasa tidak terhitung dan Allah yang akan membalasnya. Al-shaumu li wa ana ajzi bihi (puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan memberi pahala), demikian bunyi sebuah hadis qudsi. Bahkan nafas orang-orang yang menjalankan shaum adalah tasbih buat Allah. Bayangkan..! selama kita masih memiliki nyawa maka kita akan terus bernafas, dan selama Ramadhan ini jika kita menjalankan shaum dengan ikhlas dan benar, maka nafas kita selama 30 hari ini akan bernilai tasbih di hadapan Allah. Betapa Allah maha pemurah dan maha pengasih. Belum lagi jika kita menjalankan kebajikan-kebajikan lain. Menyayangi dan menghormati orang tua, menyantuni fakir miskin, meringankan beban penderitaan orang-orang yang bekerja dengan kita, meninggalkan yang haram, memberi buka kepada orang yang shaum dan sebagainya.
Dan setiap ramadhan hadir menyapa kaum muslimin, hampir semua penceramah akan selalu mengingatkan akan hal ini. Karena momentum ini tak akan didapati setiap saat dalam kehidupan, sehingga proses mengingatkan pun terjadi antar sesama agar semua orang merasakan keutamaan bulan ini. "Merugilah kalian, jika hari ini tidak lebih baik dari kemarin. Dan celakalah kalian jika hari esoknya tidak lebih baik dari hari ini." Petikan dari hadits Rasul. Dalam hadits ini sangat jelas bahwa Rasulullah sedang melakukan injeksi untuk memotivasi umatnya agar menjadi orang yang beruntung dengan cara meningkatkan kondisi kehidupannya dari hari kemarin dan menjaga stabilitasnya untuk keesokan harinya pula.
Maka mengapa kita tidak memanfaatkan ramadhan ini untuk menjadi “konglomerat” (orang yang sangat kaya) dan masuk dalam daftar hamba yang berhasil meraih penghargaan tertinggi dari Allah swt yaitu taqwa. Karena untuk menjadi konglomerat dalam bulan ini kita tidak membutuhkan modal besar hingga milyaran rupiah atau sampai menggadaikan seluruh harta yang kita miliki. Disini kita hanya memerlukan modal yang kecil dan murah serta ada pada kita. Modal tersebut adalah kita mampu untuk memunculkan semangat dalam diri kita dan mengazamkan niat yang bulat untuk beribadah dalam bulan ramadhan dengan penuh keikhlasan dan totalitas, sebagaimana diriwatkan dalam hadits “segala sesuatu tergantung pada niatnya…”. Kemudian kita terus menambah referensi keilmuan kita agar amal yang dilakukan menjadi sempurna dan mampu direfleksikan ke dalam kehidupan kita.
Jika kita sudah memiliki modal ini, maka harapan untuk menjadi konglomerat bukan lagi menjadi khalayan semata. Kita akan menjadi orang yang akan memiliki harta kekayaan yang luar biasa dan insyaallah mampu untuk “diwariskan” kepada orang lain.
Pertama, kekayaan yang akan diperoleh adalah iman yang mantap kepada Allah swt. Karena puasa ini diperuntukan oleh Allah kepada orang-orang beriman sebagaimana terkandung dalam surat al-baqarah:183. Bulan ramadhan memiliki tiga fase yaitu, awal ramadhan sebagai waktu yang penuh rahmat, pertengahan ramadhan sebagai momentum penghapusan dosa, dan akhir ramadhan sebagai ajang pemberian reward (hadiah) yaitu terbebas dari azab neraka. Hal ini semua akan didapati jika kita mampu melaksanakan ibadah dalam bulan ramadhan dengan penuh keikhlasan dan totalitas dalam meningkatkan amal shalih kita. Tidak semua orang dapat melewati setiap fase dengan langgeng, karena akan banyak sekali rintangan yang sudah siap menghadang, mulai tantangan menahan nafsu makan-minum, ujian kesabaran, ujian menahan rasa amarah, ujian menahan nafsu syahwat yang terus bergelora. Hanya orang yang sudah merasakan kekuatan iman lah yang akan mampu melewatinya dan ini menjadi kekayaan pertama yang akan kita peroleh.
Kedua, kekayaan dalam pembinaan kepribadian kita sebagai muslim di hadapan Allah. Kekayaan pertama tak akan kita dapati jika kita tak mampu mengendalikan diri, begitu pula kekuatan untuk mengendalikan diri tak akan diperoleh tanpa ada unsur keimanan yang kuat kepada Allah. Karena pada dasarnya ramadhan merupakan ajang bagi umat muslim untuk mengendalikan dirinya. Kita dituntut agar mampu mendesain kehidupan kita sendiri apakah tunduk akan tuntunan Allah atau menjadi budak nafsu belaka. Kita dituntut untuk tidak makan dan minum padahal sedang dalam kondisi lapar dan dahaga, kita dituntut untuk bersabar menghadapi cacian atau ejekan orang lain. Kita dituntut untuk bisa menjadi orang yang merasakan kondisi saudara yang lain walaupun kita tak pernah mengenalnya sama sekali. Kita akan memiliki kekayaaan dalam hal kemampuan mengendalikan diri, yang dulunya kikir dan pelit kini menjadi dermawan, dulunya kita adalah pribadi yang egois kini kita mampu menjadi orang bertoleransi antar sesama, kita mampu menjadi orang yang lemah lembut, menjadi lebih penyayang.
Ketiga, kekayaan dalam hal intelektulitas sebagai khalifah di bumi. Selama ramadhan setiap amalan yang kita lakukan akan berlipat ganda dari hari-hari biasanya. Sehingga saat bulan ramadhan banyak orang yang membaca al-quran, sebenarnya bukan hanya tuntutan untuk membaca dengan tartil namun juga kita mampu membaca hikmah-hikmah yang terkandung di dalam quran. Karena sangat banyak ilmu pengetahuan yang terkandung dalam quran sehingga akan meningkatkan kemampuan intelektualitas kita. Menjamurnya majlis-majlis ilmu yang tersedia untuk dicicipi juga menjadi sebuah sarana yang baik, bisa jadi di bulan lain kita telah digerogoti oleh puluhan agenda yang membuat kita sibuk dan lalai untuk mengulang kaji ilmu yang telah ada. Namun, di bulan ramadhan secara tidak disadari sebenarnya kita telah memiliki banyak waktu luang yang bisa dimanfaatkan untuk menambah ilmu pengetahuan.
Keempat, kekayaan sebagai pribadi yang bermanfaat dan berkualitas. Karena pada bulan ramadhan kita disunnahkan untuk memperbanyak sedekah, memberi santunan kepada fakir miskin, menyediakan bukaan bagi yang berpuasa walau hanya dengan sebutir kurma kering, menyambung tali silaturrahim yang sempat renggang karena menumpuknya aktifitas. Ramadhan bukanlah ajang untuk bermalas-malasan atau momentum istirahat total karena keletihan selama ini, melainkan harus dijadikan sebagai ajang untuk mewujudkan fungsi kita sebagai umat terbaik yang menebarkan manfaat kepada semua orang. Ramadhan merupakan momentum untuk berbakti kepada orang tua, menyapa tetangga, bercengkrama dalam rangkaian ukhuwah, ajang memperbanyak ibadah yang mampu melahirkan sisi sosial mulai dari shalat berjamaah, tadarus, i’tikaf dimesjid, buka puasa bersama. Ramdhan mengajarkan kita untuk menjadi pribadi unggul, sosok yang membingkai diri dengan kesabaran dan keikhlasan dalam menghadapi setiap dimensi kehidupan.
Itulah kekayaan yang akan kita dapati selama ramadhan yang akan membuat kita menjadi konglomerat unggul di dunia ini. Semua kekayaan itu pun tak akan dengan begitu gampangnya bisa kita dapatkan, apalagi kekayaan ini dalam konteks penghambaan diri kepada Allah pasti akan menuai berbagai hambatan. Tidak mudah memang, tapi juga bukan tidak mungkin. Semoga kita semua mampu menjadi Konglomerat di bulan ramdhan ini dan mendapatkan untaian kasih dan cinta dari Allah swt. Wallahu a’lam bish shawab.
Oleh: Putra Rizki Pratama
Dan setiap ramadhan hadir menyapa kaum muslimin, hampir semua penceramah akan selalu mengingatkan akan hal ini. Karena momentum ini tak akan didapati setiap saat dalam kehidupan, sehingga proses mengingatkan pun terjadi antar sesama agar semua orang merasakan keutamaan bulan ini. "Merugilah kalian, jika hari ini tidak lebih baik dari kemarin. Dan celakalah kalian jika hari esoknya tidak lebih baik dari hari ini." Petikan dari hadits Rasul. Dalam hadits ini sangat jelas bahwa Rasulullah sedang melakukan injeksi untuk memotivasi umatnya agar menjadi orang yang beruntung dengan cara meningkatkan kondisi kehidupannya dari hari kemarin dan menjaga stabilitasnya untuk keesokan harinya pula.
Maka mengapa kita tidak memanfaatkan ramadhan ini untuk menjadi “konglomerat” (orang yang sangat kaya) dan masuk dalam daftar hamba yang berhasil meraih penghargaan tertinggi dari Allah swt yaitu taqwa. Karena untuk menjadi konglomerat dalam bulan ini kita tidak membutuhkan modal besar hingga milyaran rupiah atau sampai menggadaikan seluruh harta yang kita miliki. Disini kita hanya memerlukan modal yang kecil dan murah serta ada pada kita. Modal tersebut adalah kita mampu untuk memunculkan semangat dalam diri kita dan mengazamkan niat yang bulat untuk beribadah dalam bulan ramadhan dengan penuh keikhlasan dan totalitas, sebagaimana diriwatkan dalam hadits “segala sesuatu tergantung pada niatnya…”. Kemudian kita terus menambah referensi keilmuan kita agar amal yang dilakukan menjadi sempurna dan mampu direfleksikan ke dalam kehidupan kita.
Jika kita sudah memiliki modal ini, maka harapan untuk menjadi konglomerat bukan lagi menjadi khalayan semata. Kita akan menjadi orang yang akan memiliki harta kekayaan yang luar biasa dan insyaallah mampu untuk “diwariskan” kepada orang lain.
Pertama, kekayaan yang akan diperoleh adalah iman yang mantap kepada Allah swt. Karena puasa ini diperuntukan oleh Allah kepada orang-orang beriman sebagaimana terkandung dalam surat al-baqarah:183. Bulan ramadhan memiliki tiga fase yaitu, awal ramadhan sebagai waktu yang penuh rahmat, pertengahan ramadhan sebagai momentum penghapusan dosa, dan akhir ramadhan sebagai ajang pemberian reward (hadiah) yaitu terbebas dari azab neraka. Hal ini semua akan didapati jika kita mampu melaksanakan ibadah dalam bulan ramadhan dengan penuh keikhlasan dan totalitas dalam meningkatkan amal shalih kita. Tidak semua orang dapat melewati setiap fase dengan langgeng, karena akan banyak sekali rintangan yang sudah siap menghadang, mulai tantangan menahan nafsu makan-minum, ujian kesabaran, ujian menahan rasa amarah, ujian menahan nafsu syahwat yang terus bergelora. Hanya orang yang sudah merasakan kekuatan iman lah yang akan mampu melewatinya dan ini menjadi kekayaan pertama yang akan kita peroleh.
Kedua, kekayaan dalam pembinaan kepribadian kita sebagai muslim di hadapan Allah. Kekayaan pertama tak akan kita dapati jika kita tak mampu mengendalikan diri, begitu pula kekuatan untuk mengendalikan diri tak akan diperoleh tanpa ada unsur keimanan yang kuat kepada Allah. Karena pada dasarnya ramadhan merupakan ajang bagi umat muslim untuk mengendalikan dirinya. Kita dituntut agar mampu mendesain kehidupan kita sendiri apakah tunduk akan tuntunan Allah atau menjadi budak nafsu belaka. Kita dituntut untuk tidak makan dan minum padahal sedang dalam kondisi lapar dan dahaga, kita dituntut untuk bersabar menghadapi cacian atau ejekan orang lain. Kita dituntut untuk bisa menjadi orang yang merasakan kondisi saudara yang lain walaupun kita tak pernah mengenalnya sama sekali. Kita akan memiliki kekayaaan dalam hal kemampuan mengendalikan diri, yang dulunya kikir dan pelit kini menjadi dermawan, dulunya kita adalah pribadi yang egois kini kita mampu menjadi orang bertoleransi antar sesama, kita mampu menjadi orang yang lemah lembut, menjadi lebih penyayang.
Ketiga, kekayaan dalam hal intelektulitas sebagai khalifah di bumi. Selama ramadhan setiap amalan yang kita lakukan akan berlipat ganda dari hari-hari biasanya. Sehingga saat bulan ramadhan banyak orang yang membaca al-quran, sebenarnya bukan hanya tuntutan untuk membaca dengan tartil namun juga kita mampu membaca hikmah-hikmah yang terkandung di dalam quran. Karena sangat banyak ilmu pengetahuan yang terkandung dalam quran sehingga akan meningkatkan kemampuan intelektualitas kita. Menjamurnya majlis-majlis ilmu yang tersedia untuk dicicipi juga menjadi sebuah sarana yang baik, bisa jadi di bulan lain kita telah digerogoti oleh puluhan agenda yang membuat kita sibuk dan lalai untuk mengulang kaji ilmu yang telah ada. Namun, di bulan ramadhan secara tidak disadari sebenarnya kita telah memiliki banyak waktu luang yang bisa dimanfaatkan untuk menambah ilmu pengetahuan.
Keempat, kekayaan sebagai pribadi yang bermanfaat dan berkualitas. Karena pada bulan ramadhan kita disunnahkan untuk memperbanyak sedekah, memberi santunan kepada fakir miskin, menyediakan bukaan bagi yang berpuasa walau hanya dengan sebutir kurma kering, menyambung tali silaturrahim yang sempat renggang karena menumpuknya aktifitas. Ramadhan bukanlah ajang untuk bermalas-malasan atau momentum istirahat total karena keletihan selama ini, melainkan harus dijadikan sebagai ajang untuk mewujudkan fungsi kita sebagai umat terbaik yang menebarkan manfaat kepada semua orang. Ramadhan merupakan momentum untuk berbakti kepada orang tua, menyapa tetangga, bercengkrama dalam rangkaian ukhuwah, ajang memperbanyak ibadah yang mampu melahirkan sisi sosial mulai dari shalat berjamaah, tadarus, i’tikaf dimesjid, buka puasa bersama. Ramdhan mengajarkan kita untuk menjadi pribadi unggul, sosok yang membingkai diri dengan kesabaran dan keikhlasan dalam menghadapi setiap dimensi kehidupan.
Itulah kekayaan yang akan kita dapati selama ramadhan yang akan membuat kita menjadi konglomerat unggul di dunia ini. Semua kekayaan itu pun tak akan dengan begitu gampangnya bisa kita dapatkan, apalagi kekayaan ini dalam konteks penghambaan diri kepada Allah pasti akan menuai berbagai hambatan. Tidak mudah memang, tapi juga bukan tidak mungkin. Semoga kita semua mampu menjadi Konglomerat di bulan ramdhan ini dan mendapatkan untaian kasih dan cinta dari Allah swt. Wallahu a’lam bish shawab.
Oleh: Putra Rizki Pratama
1 comments:
commentsinsyaAllah kita bisa ;;)
Reply