Mahasiswa; IPK atau Pengabdian


Kampus merupakan daerah lingkungan bangunan utama perguruan tinggi (universitas, akademi) tempat semua kegiatan belajar-mengajar dan administrasi berlangsung (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Banyak elemen yang ada di dalam kampus mulai dari rektor, dosen, staff birokrat, penjual makanan, dan yang paling penting hingga pantas disebut kampus adalah karena memiliki manusia yang menyandang gelar mahasiswa. Dalam dunia mahasiswa yang menjadi elemen kuat dalam dunia perkampusan, terdapat pula pembagian-pembagian aktivitas mulai dari belajar, praktikum, hingga beroganisasi. Lalu pentingkah organisasi mahasiswa? Apakah akan menghambat kualitas intelektualitas seorang mahasiswa? Mungkin pertanyaan ini akan sering muncul dibenak beberapa orang yang jarang bersentuhan dengan dunia mahasiswa.

Jika kita menilik arti mahasiswa itu sendiri maka dapat diartikan orang yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi atau secara sederhana diartikan sebagai orang yang berkutat dengan dunia belajar dan kuliah. Jika kita mau mencoba membuka lembar perlembar sejarah secara perlahan maka akan terlihat dengan jelas bahwa bangsa ini dapat merasakan demokrasinya atas jasa dan kerja keras para mahasiswa masa dulu. Mahasiswa yang diberi gelar dengan anak kuliah juga di sisi lain memiliki fungsi sebagai kontrol sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Khususnya di Indonesia fungsi ini sudah mampu dibuktikan baik secara fakta maupun teori, bagaimana proses jatuhnya presiden soekarno yang dimotori oleh TNI ternyata dikuatkan oleh barisan mahasiswa. Begitu pula lengsernya Soeharto yang kepemimpinannya hampir mengakar dalam tubuh tirani dan otoriter namun mampu dipangkas oleh kumpulan “tukang kebun” yang disebut mahasiswa. Hal ini disebabkan karena mahasiswa memiliki kekuatan intelektulitas tinggi yang melahirkan daya kritis untuk melihat sebuah kondisi bukan hanya dari satu sudut pandang melainkan mereka akan melihat dari beberapa sudut pandang kemanfaatan, keadilan, keberpihakan atas rakyat, kebenaran dan kejujuran suatu pekerjaan.
Yang akhirnya mahasiswa pun disematkan penghargaan sebagai agent of change karena dasar keilmuan yang mereka miliki yang sangat diharapkan dapat membantu dan menularkannya kepada masyarakat sebagai wujud aplikasi ilmu yang di dapat saat dibangku perkuliahan. Dan pastinya sebuah ilmu yang dimiliki akan semakin dirasakan manfaatnya oleh banyak orang ketika ilmu tersebut masih dalam keadaan “hangat”, bayangkan saja jika ilmu yang telah diperoleh baru akan disalurkan ketika mereka telah menyelesaikan masa kuliahnya yang pasti akan membutuhkan waktu yang tergolong lama. Secara daya ingat (memori) ketika terjun langsung ke tengah-tengah masyarakat maka ini adalah masa keemasan bagi mereka karena langsung mengaplikasikan keilmuannya dalam praktik pengabdian yang mungkin jika ditunggu lama akan mengikis daya ingat akan ilmu itu sendiri.
Saat ini dalam dunia kampus terdapat beberapa golongan yang mulai menyerang mahasiswa. Pertama adalah kelompok yang dengan begitu semangatnya menempuh alur perkuliahan yang akhirnya membuat mereka sibuk dalam rute kelas-pustaka-buku tebal-tugas-seminar-dan sebagainya, yang membuat mereka lupa akan posisinya sebagai agent of change. Hal ini dikarenakan dalam benak mereka hanya menginginkan sederet prestasi akademik yang akan dibuktikan dengan selembar kertas sebagai bukti penilaian akan prestasinya dan mendapat pekerjaan yang layak dengan gaji besar karena prestasi akademik tersebut. Tak salah memang dengan kelompok ini karena mahasiwa adalah sekelompok orang yang hidup dalam dunia perkampusan. Namun dimanakah letak agent of change itu?kapan akan berkontribusi untuk masyarakat? Dimana sisi agent of social control?
Kelompok kedua adalah kelompok yang mendedikasikan dirinya untuk terus mengabdi kepada masyarakat yang sering disebut dengan aktivis mahasiswa atau organisatoris. Namun mayoritas dari kelompok ini akhirnya melupakan bahkan meninggalkan masa-masa dan tugas nya sebagai mahasiswa dalam menuntut ilmu. Padahal masyarakat sangat merindukan secercah keilmuan yang akan di dapat dari kaum intelegensia ini, lalu bagaimana dapat berbagi jika jarang masuk kuliah? Apakah cukup dengan ilmu yang seadanya untuk berbagi dengan masyarakat yang haus akan ilmu pengetahuan?
Kondisi seperti ini banyak mulai di dapati jika kita sering bergerilya di dunia kampus. Namun yang sangat disayangkan adalah kelompok yang ketiga, mereka tidak berada dalam kedua kelompok di atas. Mahasiswa dalam kelompok ketiga ini hanya mempersiapkan dirinya untuk bersenang-senang dan menebarkan pesona kepada lawan jenis yang berada disekitarnya. Kegiatannya hanya dipenuhi dengan agenda hura-hura, berlama-lama dengan penuh ke-khusyu-kan di kantin. Sungguh sangat memprihatinkan jika kita terdapat dalam kelompok terakhir ini, karena tak ada yang dapat dibanggakan kecuali akan sifat dan sikap hedon serta lalainya.
Solusi untuk kondisi mahasiswa saat ini adalah kita mampu mengkolaborasi serta mengelaborasi antara kelompok pertama dan kedua. Sehingga akan lahir generasi mahasiswa yang memiliki kepekaan sosial yang baik dan mempunyai dasar intelektualitas yang sangat mapan sehingga mampu menjadikan dirinya pantas di gelari dan diberi penghargaan sebagai agent of change serta agent of social control, dan tentunya tak mengingkari hasrat utnuk mendapat suanana santai (refreshing). Masyarakat hari ini tak membutuhkan uang banyak jika akhirnya akan menghantarkan mereka pada kondisi individualisme dan pragmatisme. Masyarakat juga tak perlu pemimpin yang baik namun kosong intelektual. Masyarakat hanya memerlukan sosok pemimpin yang memiliki intelektual yang tinggi dan memiliki integritas pribadi yang baik, sehingga mampu memberikan kesejahteraan dan membangkitkan gairah solidaritas sosial (kebersamaan) diantara sesama dan ini hanya akan lahir dari generasi mahasiswa yang mampu mempertahankan sisi idealisme dan daya kritisnya. Bukan dari kelompok yang menghabiskan masa-masanya untuk kegiatan yang tak bermanfaat dan hanya mementingkan kesenangan pribadi. Kita harus ingat akan tugas kita sebagai mahasiswa yang dirangkum dalam Tri Dharma perguruan tinggi yaitu, pendidikan,penelitian dan pengabdian. Sehingga tak ada alasan untuk hanya menunaikan dari salah satu dharma tersebut. Dan kita sebagai mahasiswa juga memiliki hutang kepada generasi pendahulu yang telah memberikan kemerdekaan dalam memperoleh pendidikan. Lalu apakah kita akan menjadi generasi yang mewariskan keterkungkungan dalam hal pola pikir untuk generasi selanjutnya?

By: Putra Rizki Pratama

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »