Impotennya Humas Sabang

Oleh : Putra Rizki Pratama 

        Siapa yang tak mengenal dengan sosok Jokowi yang saat ini menjadi Gubernur Jakarta. Sosok yang tengah naik daun karena beragam kegiatan yang Pro-masyarakat bahkan mencetuskan pola hidup pejabat yang benar-benar menjadi pelayan masyarakat. Bahkan gubernur yang dikenal program Blusukannya, masuk dalam kategori Pemimpin paling fenomenal di Dunia menurut majalah Times. Tentunya ini merupakan contoh yang baik bagi kalangan pejabat di daerah lain. Namun, terlepas dari sosok dan beragam kebijakan pro-masyarakatnya, tentunya popularitas yang didapat oleh Jokowi tidak hadir dengan sendirinya. Hal ini berhasil dan mencapai puncak popularitas karena kuat dan sehatnya pola kinerja Humas DKI Jakarta. Yang terus mempublikasi setiap kegiatan dan kebijakan yang diambil oleh pemimpin mereka. 
      Karena sebenarnya beberapa program yang dijalankan oleh Jokowi bukan tidak telah dilakukan oleh beberapa daerah lainnya. Selain faktor kebijakan pro-masyrakat sudah tentu efek “Ibukota” menjadi daya tarik sendiri dalam dunia jurnalistik untuk menuliskan kisah-kisah yang ada di dalamnya. Maka pertanyaannya, apakah daerah lain tak mampu mendapat ruang di media massa untuk juga mempopulerkan daerahnya? Tentu jawabannya adalah semua daerah layak dan pantas mendapat ruang diberbagai media massa untuk mempublikasikan berbagai kegaiatan yang tengah dan akan dijalankan oleh daerah tersebut.
   
Maka sukses atau tidaknya sebuah kegiatan tidak akan lepas dari peranan pihak Humas pemerintahan yang bertugas mempublikasikan kegiatan tersebut, sehingga publik pun akhirnya dapat menilai dan melihat sendiri fakta dilapangan. Oleh karena itu, bagian Humas dalam suatu pemerintahan menjadi pondasi untuk membangun suatu daerah. Jika Humas-nya lemah maka seberapa hebat pun kebijakan suatu daerah hanya akan menjadi santapan lokal saja. Bahkan bisa jadi hanya menu obrolan pekerja di lingkungan kantoran pemerintahan saja. 
     Hal inilah yang terjadi dalam tubuh pemerintahan Kota Sabang. Sabang hanya terkenal karena faktor historis dan geografisnya sebagai tujuan wisata saja. Walaupun dalam konteks promosinya pun sangat-sangat minim karena terlalu impotennya Humas Kota Sabang dalam mewacancakan ke berbagai media massa. Humas yang penulis maksudkan disini termaksud pula bagian humas yang terdapat dalam instansi lainnya yang ada dalam kawasan pemerintahan Sabang. 
     Hari ini, jika kita ingin mengakses informasi tentang sabang maka yang akan kita temuka adalah berita-berita lawas ataupun yang sudah tidak update lagi. Sungguh menyedihkan, padahal saat ini pemerintah kota sabang memiliki berbagai kegiatan yang sangat pro-Masyarakat dan bahkan mampu menjadi contoh untuk daerah lainnya. Salah satunya adalah program bantuan pendidikan 2 juta per siswa mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Program yang sangat patut diberi apresiasi oleh masyarakat luas bahkan pihak Kementrian Dalam Negeri sendiri memberikan apresiasi atas keberanian dalam melahirkan kebijakan tersebut. Namun, berapa banyak masyarakat Sabang mengetahui hal tersebut? Lagi-lagi Humas mulai menumpuk “dosa” mereka karena terlalu impotennya mengelola media. Jika hal seperti ini tak mampu dikelola dengan baik,lantas kegiatan atau tema seperti apa yang layak untuk dijamah oleh tangan-tangan Humas Kota Sabang.??? 

Revitalisasi Humas Sabang 
       Suksesnya suatu daerah maka tidak akan terlepas oleh peran media. Maka jika pemerintah Kota Sabang ingin mendapat posisi dimata nasional, dalam artian ranah masyrakat nasional bukan tataran pejabatnya saja, tidak hanya karena historis destinasi wisatanya, maka pihak Humas harus mampu menguasai media dengan sungguh-sungguh. Bahkan Sabang akan mampu menyaingi Ibukota (Jakarta-red) dengan berbagai kebijakan pro-masyrakatnya. Jika jokowi mampu mendapat posisi di mata nasional, maka Sabang pun akan lebih pantas untuk mendapat ruang apresiasi masyarakat. Dengan kebijakan memberikan santunan duka untuk setiap warga Kota Sabang yang meninggal sebesar 3 - 5 juta/warga meninggal. Daerah mana yang berani memberikan kebijakan seperti ini. 
      Maka, bagian Humas Kota Sabang hari ini harus melakukan pembenahan secara internal agar kebijakan-kebijakan bonafit yang telah dan akan dilaksanakan mampu terekspose dan menjadi nilai lebih dari kota sabang selain pariwisatanya. Karena sabang pun mampu menjadi contoh dalam kebijakan pro-masyarakatnya, bukan hanya pahlawan kemeja kotak-kotak yang layak mendapat apresiasi dari ruang publik nasional. Bagian Humas Pemko Sabang harus mampu menjadi lokomotif untuk jajaran humas yang ada dalam isntansi-instansi lainnya, dan mampu menjalin kerjasama yang baik diantara sesama. Humas jangan terlalu bangga dengan impotennya mengelola media, karena sukses atau tidaknya kegiatan akan sangat bergantung kepada kekuatan media. Humas harus mampu menguasai semua ranah media baik cetak maupun online, terlebih hari ini Sabang mendapat posisi yang baik dihati internasional, maka Pemko Sabang harus mampu memiliki situs resmi yang berbahasa Internasional, minimal berbahasa inggris. Hal ini agar suasana kondusif dan bersahajanya Sabang mampu tersalurkan ke kancah internasional. Humas juga harus mampu menjalin harmonisasi dengan pihak-pihak yang telah terjun ke dunia maya dalam membantu tugas kehumasan Pemko Sabang melalui website/blog pribadi yang lebih eksis daripada website resmi pemerintahan. Jaya Humas Kota Sabang menuju kejayaan Sabang.

(Pemuda dan mahasiswa asal sabang)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »