Siapa sih yang tidak tahu Tukang pangkas rambut. Salah satu profesi yang biasa tapi luar biasa dampaknya. Bayangkan kalo mereka akan menjadi semak belukarlah kepala kita dengan rambut-rambut tak teratur. Dan menjadi salah satu profesi yang bisa mengerjai kepala seorang raja hingga rakyat jelata. Hanya tukang pangkas lah yang mampu seperti itu, memegang kepala orang tanpa menimbulkan amarah.
Tapi saya tidak ingin membahas tentang kreatifitas mereka dalam menjelajahi kepala para pelanggan mereka. Karena itu adalah anugrah bagi mereka karena telah berusaha.
Yang menarik bagi saya dari seorang tukang pangkas adalah teknik komunikasi yang digunakan. Dan teknik ini perlu dipelajari bagi semua orang yang ingin menjadi pemimpin dan aktif dalam organisasi baik yang bersifat kekeluargaan hingga profesional.
Tukang pangkas selalu mengawali pekerjaan mereka dengan sebuah sapaan dan pertanyaan "pangkas pendek atau rapiin aja?" "Mau dipangkas model apa?" dan beberapa model pertanyaan lainnya namun serupa. Sebuah bentuk komunikasi yang baik. Karena prinsip dasar komunikasi adalah terjadinya dialog antara dua orang dan mengawali perjumpaan dengan sebuah pertanyaan sudah pasti akan memunculkan pembicaraan lanjutan.
Kedua, si tukang pangkas telah mencairkan suasana dengan mengawali pertanyaan untuk menyapa para pelanggan mereka sehingga pelanggan pun menjadi nyaman dan tak merasa asing berada ditempat itu. Meskipun pada prakteknya, semua pertanyaan tadi terkadang hanya menjadi lipservice semata. Karena tetap saja tukang pangkas akan mengerjakannya sesuai pikiran dan "rasa-rasa" mereka. Terus saja menggunting hingga menghasilkan hasil yang menurut dia bagus bukan sesuai permintaan pelanggan.
Lantas dikemanakan jawaban dari pertanyaan tadi. Itu hanya menjadi sebuah landasan saja dalam bekerja dan menggunting potongan rambut kita, kedua ya itu hanya untuk menyenangkan pelanggan. Apa yang patut kita contoh dari mereka adalah kemampuan mencoba membangun komunikasi dengan semua pihak dalam organisasi dan menjadikan mereka itu ADA.
Meskipun yang kita tanyakan terkadang tidak akan kita realisasikan sama sekali karena kita sudah memiliki konsep dan perencanaan yang sangat matang dan komplet. Setidaknya sudah ada pola menghargai dan menyatakan bahwa dia (kawan organisasi-red) sudah kita anggap ADA bukan menjadi makhluk ada namun tiada di organisasi.
Saat ini jarang pola komunikasi ini dilakukan. Sering kita jumpai pemimpin yang hanya mendikte anggotanya bahkan pemimpin yang menolak membuka ruang diskusi dengan anggota karena menganggap anggotanya adalah kaum bodoh yang tak pantas memberi ide dan gagasan dalam kepeimpinannya. Belum lagi praktek keangkeran di organisasi karena sesama anggota sangat jarang bertegur sapa hingga bercengkrama dalam keakraban.
Lagi-lagi si Tukang Pangkas memberi contoh yang sangat bagus. Liat saja dalam menjalankan tugasnya memotong rambut kita, mereka terus saja bercengkama dengan kita sehingga kita tidak merasa sedang entah dinegeri antah berantah mana. Hal kedua yang diajarkan si Tukang Pangkas adlaah bukan karena sedang menjalankan tugas akhirnya kita menghilangkan ruang interaksi dengan pihak lain. Tugas penting namun rasa keakraban jauh lebih penting.
Maka mari belajar dari si Tukang Pangkas, sehingga kita mampu menjadi pemimpin yang disukai dan disegani oleh para anggota lainnya.
#SaleumPRP
Banda Aceh, 11 Agustus 2014
14.00 WIB