Orang Baik merasa Suci?

Kita semua pasti pernah melihat kepompong atau minimal tahu cerita tentang kepompong. Yang merupakan cikal bakal lahirnya seekor kupu-kupu ke dunia ini.
Kupu-kupu yang indah dan memikat pandangan insan manusia itu tak serta merta hadir keindahannya. Awalnya dari seekor ulat yang bagi kebanyakan orang adalah salah satu binatang yang menjijikan, lantas menjadi kepompong yang menumpang pada sebatang pohon untuk berteduh dan akhirnya menjadi kupu-kupu yang indah. Tentunya proses ini membutuhkan waktu yang lama bukan seperti membalikan telapak tangan.

Akhirnya binatang yang menjijikan tadi sekarang menjadi binatang yang sangat mencuri perhatian manusia. Apalagi dengan warna gemerlapnya dan beragam species.

Bagaimana jika kisah hidup kupu-kupu itu kita samakan dengan manusia. Apakah ada hubungan, setidaknya kita dapat mengambil pelajaran bahwa dari sesuatu yang jelek/buruk bahkan menjijikan tsb masih tersimpan sesuatu yang indah dan bermanfaat.

Seringkali kita menganggap seseorang itu buruk hanya karena tidak sesuai dengan penilian kita dan tentunya kita hanya menggunakan parameter sendiri kpd orang lain untuk menilai dia baik atau tidak.
Maka sudah tidak dpt dihindari perpecahan menjadi corak dalam hubungan antarmanusia saat ini. Karena masih seringnya meletakan indikator kebaikan kita pada orang.

Padahal sejatinya tidak ada manusia yang benar-benar jahat dan tidak ada manusia yang selalu dalam kebaikan. Ibarat atlit ski yg profesional, maka dia akan bertemu dengan masa yg membuat dia akan terpeleset hingga terjatuh dan terluka.

Maka tugas kita manusia adalah memberikan dua ruang kepada setiap orang yang kita temui atau kita jalin hubungan baik karena teman,saudara hingga yang kita sayang.
Ruang pertama adalah ruang kebaikan. Disini menandakan bahwa smua orang akan bisa berbuat baik bahkan sekejam dan sejahat apapun dia. Contoh simpelnya adalah kondisi seorang Preman. Seorang preman yang sdah lama melalangbuana dalam dunia kejahatan tidak akan semudahnya saja melakukan kejahatan. Pernahkah kita melihat seluruh preman mengahjar hingga membunuh semua orang yang ditemuinya? Jawabannya tentu tidak pernah. Malahan kita terkadang menjumpai preman yang menolong anak kecil, membantu seorang nenek menyebarangi jalan tentunya dengan cara mereka sendiri. Disini menunjukan bahwa setiap orang secara fitrah memiliki nilai kebaikan dalam sanubari terdalamnya.

Ruang kedua adalah ruang kesalahan. Disini kita dituntut untuk objektif melihat kasus. Bahwa kesalahan itu akan bisa menjerat setiap orng termasuk kita. Maka yang dibutuhkan kelapangan dada kita untuk memahami kondisi yang dan keberanian kita untuk menasehati orang yang sedang larut dalam kesalahan itu.
Banyak kisah orang-orang yang dulunya terkenal dengan kejahatan mereka namun akhirnya mereka menjadi orang yang dikenal karena kebaikannya.  Ini semua karena masih ada orang yangg mw brlapang dada dan berani menasihati mereka bukan malah menjauhi dan menyingkirkan mereka dari lingkungan kebaikan.

Namun, tak jarang pula kita menjumpai kisah seornag yang terkenal baik dimasa hidupnya namun dia mengakhiri hidupnya dengan hal yang dilarang agama. Orang yang dulu terkenal alim dan shalih namun kedapatan sebagai pelaku zina. Atau pejabat yang diakui jujur dan shalih namun diujungnya terjerat kasus-kasus pidana.

Kondisi kedua ini sering terjadi hanya karena mereka telah merasa "benar dan suci". Sehingga apa yang dilakukan tidak lagi dipikirkan secara matang dan bahkan dimunculkanlah alibi-alibi pembenaran.
Orang yang sudah merasa diri benar dan suci ini tidak lagi memiliki rem keimanan dan akhirnya kebablasan dalam berbuat. Karena seorang ustad sdah menganggap dirinya ustad maka dia dengan semena2 menasihati orang lain dengan cacian dan melakukan kekerasan fisik. 

Mari jaga diri kita dari sifat merasa Benar dan Suci ini. Jangan sampai kita menjadi pribadi yang dikenang buruk diakhir hidup. Tak perlu mempertahankan gengsi citra Baik dihadapan masyarakat karena lebih kita diterima apa adanya bukan karena berdusta.

Seorang atlit tinju profesional tak pernah pamer akan raihan juara2 yg didapat. hanya para amatiran yang bergaya bak juara dunia tapi nyatanya hanya kelompok penghayal. maka begitupula dengan konsep kebaikan. Pribadi baik tak pernah pamer dan merasa paling benar dan suci hanya mereka yang amatir selalu merasa paling benar namun pada faktanya hanyalah pepesan kosong.


*sebuah catatan saat menunggu antrian menuju pulau Sabang.
#SaleumPRP
Banda Aceh, 31 juli 2014
15:42

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »